Benjolan yang berada di tenggorokan komunitas Muslim Perancis telah dikonfirmasi: orang yang mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tujuh orang dalam apa yang dikenal sebagai peristiwa mengerikan adalah seorang mujahidin gadungan bernama Muhammad Merah, seorang Perancis-Aljazair. Atau mungkin: Seorang warga Perancis asal Aljazair. Atau mungkin: Seorang warga Perancis keturunan Aljazair.
Tapi Bukan Orang Perancis
Dalam media berbahasa Inggris sebutan etnis tersebut sangat diperlukan untuk menggambarkan Merah, tapi tidak pada media Perancis. Hal ini mungkin hal yang mengejutkan bagi banyak orang. Ya, darah Afrika Utara disebutkan oleh pers Perancis, kadang-kadang bahkan di bagian awal berita, tetapi sering kali tidak disebutkan sama sekali.
Sebagian wartawan Perancis yang saya ajak bicara, merasa terkejut dan menyatakan bahwa latar belakang Aljazair dari Merah hampir selalu disebutkan oleh pers berbahasa Inggris. Tapi bagi para wartawan Perancis, Merah adalah orang Perancis: titik. Ini adalah refleksi dari prinsip Perancis untuk mempertahankan pengabaian yang lengkap bagi afiliasi agama atau etnis ketika menggambarkan seorang warga negara Perancis.
Perancis bukanlah sebuah warna kulit
Dan untuk hal itu kita harus memberikan penghormatan bagi Perancis. Bagaimanapun, Perancis adalah Kekaisaran Kolonial Eropa satu-satunya yang pernah melakukan upaya-upaya nyata untuk menjadikan negeri-negeri asing menjadi tanah Perancis. Ada 2,7 juta orang yang diwakili dalam parlemen Perancis yang tinggal di wilayah-wilayah Perancis di luar negeri, banyak dari mereka memiliki hak kewarganegaraan. Rakyat Perancis akan memberikan suara dalam pemilihan presiden mendatang, dan bahkan menggunakan euro, di Amerika Selatan, di Karibia dan di negeri-negeri lain yang mungkin tidak pernah tumbuh anggur.
Selama beberapa dekade, parlemen Perancis sering tunduk pada keinginan blok Perancis-Aljazair, yang menuntut konsesi bagi para pemukim “pied-noir” bahkan ketika pendapat umum di daratan Perancis berpihak pada kemerdekaan Aljazair. Tentu saja Perancis-Aljazair-Arab (bisa menjadi rumit, bukan?) tidak pernah mulai diberikan hak yang sama di negeri Aljazair yang apartheid, tapi hal itu adalah suatu tindakan moral yang buruk pada saat ini, dan kontras dengan Inggris, Belanda, Belgia, Italia, dll, Perancis berbeda, dan perbedaan-perbedaan ini telah membentuk pandangan modern Perancis yang jelas berbeda atas ras, agama dan etnis.
Sulit bagi saya untuk menjelaskan kepada banyak orang non-Perancis bahwa rata-rata orang Perancis tidak akan membahas masalah-masalah warna kulit atau agama. Di bawah hukum Perancis, mereka merasa semua orang adalah sama, dan demikianlah adanya. Dan saya sedang berbicara mengenai rata-rata orang-orang yang non-kulit putih: kulit hitam dengan latar belakang Afrika Barat, imigran generasi ke-3 dari Istanbul atau dari orang-orang yang kakeknya berasal dari apa yang dulu disebut sebagai Indochina Perancis.
Hal ini mengagumkan, modern dan bagi banyak orang yang saya sudah bicara dengannya di Perancis, hal ini berhasil.
Tapi hanya kadang-kadang, karena kebodohan yang disengaja tentu saja merupakan pedang bermata dua: Sebuah kuda dengan penutup mata dapat berkonsentrasi lebih baik ketika mengikuti perlombaan, tetapi jika penutup matanya dibuka Anda tidak ingin berdiri di belakangnya.
Perancis di saat baik dan buruk
Netralitas Perancis sering berarti kurangnya apresiasi bagi masalah-masalah kelembagaan yang dihadapi minoritas terbesar mereka - umat Islam. Dengan tidak menghitung jumlah mereka, menetapkan tindakan afirmatif atas masalah atau mengatasi masalah yang diciptakan oleh mereka yang hanya membayar lip-service untuk arti dari sebuah bangsa yang tidak melihat warna kulit, Muslim Perancis,*dan minoritas-minoritas penting lainnya, untuk melepaskan kekuasaan kolektif mereka.
Itulah mengapa hal ini sangat penting pada saat kemungkinan tindakan penyalahan rasial bahwa Perancis dengan bangga menegaskan bahwa Muhammad Merah adalah orang Perancis. Sekarang, lebih dari sebelumnya, Perancis lebih baik dalam mempertahankan gagasan bahwa Merah adalah orang Perancis seperti sebuah baguette (roti tongkat Perancis).
Karena tentu saja mereka tidak dapat memiliki keduanya: Menyangkal kesempatan bagi minoritas untuk mendapatkan keuntungan dari kekuasaan komunal mereka pada saat-saat yang baik dan kemudian memainkan perbedaan mereka ketika mereka sangat membutuhkan perlindungan yang dijanjikan dari sikap tidak membedakan warna kulit.
Tindakan Merah menipu banyak orang yang awalnya berpikir bahwa si pembunuh adalah seorang sayap kanan, dan teroris Eropa. Namun kami tidak tertipu: seperti itulah Merah.
Kecurigaan awal jatuh pada tiga orang pasukan payung Perancis yang telah dipecat secara tidak hormat jarena hubungan mereka dengan kelompok neo-Nazi. Banyak fakta-fakta dari kasus itu yang cocok dengan terorisme gaya Barat yang biasanya dilakukan oleh orang-orang kulit putih keturunan Eropa: Sebuah pengabaian nihilistik atas kehidupan manusia, dibuktikan dengan mengambil nyawa anak-anak yang tak berdosa, kurangnya klaim untuk segera bertanggung jawab yang membenarkan tindakan keji dengan memunculkan ideologi tertentu dan fakta bahwa hal ini bukan tindakan bunuh diri tapi misi penuh perhitungan, pembunuhan berdarah dingin.
Banyak orang yang awalnya menduga bahwa ini dilakukan oleh orang (murni kulit putih) keturunan Eropa yang sebenarnya adalah bukti tingginya tingkat integrasi yang dicapai oleh umat Islam Perancis: Merah tampaknya telah melakukan kampanye teror seperti layaknya seorang psikopat Eropa. Namun, saya tidak berpikir dia akan di berada dalam poster berikutnya bagi persatuan Perancis-Arab.
Muslim mempersiapkan serangan balik, tapi berharap seorang kandidat melampaui kebencian
Sebagai seorang koresponden Press TV di Paris, saya telah berbicara dengan ratusan Muslim Perancis tentang isu-isu dan keprihatinan mereka. Sementara penggambaran mereka yang biasanya negatif oleh media Perancis adalah hal yang menjengkelkan secara universal, mereka sebagian besar terbiasa dijadikan kambing hitam oleh para politisi. Saat pemilihan presiden Perancis hampir sebulan lagi, bagaimana kasus Merah akan digunakan oleh para calon, dan bagaimana pemilih memandang perlakuan tersebut, akan sangat tepat menggambarkan bagaimana masyarakat Perancis benar-benar memandang kaum Muslim dan komunitas imigran.
Marine Le Pen, kandidat presiden dari Front sayap Kanan Nasional, dengan tanpa rasa malu segera mencoba untuk membuat jerami politik dari pembunuhan itu, dengan mencerca pemerintah Sarkozy karena meremehkan ancaman Muslim Perancis di dalam negeri untuk keselamatan publik dan di mana-mana banyak kebab berdiri. Untungnya, hal itu kontras dengan seruan yang lebih tercerahkan untuk bersikap tenang dan mengucilkan oportunisme politik yang dipromosikan oleh kandidat Sosialis, Francois Hollande, Francois Bayrou, yang menempati posisi keempat yang diharapkan dari putaran pertama pemungutan suara, dan sikap terpuji calon dari kelompok kiri, yang bersekutu dengan kubu komunis Jean-Luc Melenchon, yang menempati posisi kelima, yang mengatakan, “Ada tingkat kekerasan dan stigmatisasi di masyarakat Perancis yang tumbuh. Hal ini tidak bisa diterima”
Tentu saja, semua mata tertuju pada pemimpin. Banyak yang menunggu untuk melihat di taktik mana Presiden Nicolas Sarkozy akan mengambil. Dalam kampanye 2007, ia nyaris menyingkirkan calon Sosialis dengan memberikan favoritnya pose “terpenting ” dan mengajukan xenofobia seakan hal ini merupakan program yang sebenarnya bagi adanya perubahan positif dalam masyarakat Perancis.
Apakah tindakan seorang pembunuh berantai, seorang pelaku penembakan atas sekolah yang pertama dalam sejarah Perancis dan pengepungan yang mencengkeram atas orang gila itu akan benar-benar mengubah pikiran para pemilih?
Sarkozy sudah memainkan kartu kebencian pada tahun 2007
Banyak orang yang saya telah ajak bicara pasca penembakan itu segera memberikan dukungan pemilu 2012 untuk Sarkozy. Meskipun pembunuhan itu menyerukan Perancis untuk mengurangi tingkat rasisme dan kolonialisme - tentu saja tidak ada pembenaran atas tindakan yang mengerikan seperti itu, tapi si pembunuh mengatakan alasannya adalah keterlibatan Perancis di Afghanistan, undang-undang Perancis anti-burqa yang baru serta kematian anak-anak di Gaza (dan mungkin ia ingat zaman sebelum Sarkozy, ketika Perancis dianggap sebagai sekutu Arab) - banyak orang berharap bahwa rakyat Perancis akan memilih dengan penuh ketakutan bukan dengan kepala penuh ucapan syukur karena tidak termasuk di antara orang-orang yang mati sebagai korban.
Saya menemukan bahwa kurangnya keyakinan dari orang Perancis baik laki-laki maupun perempuan adalah mengejutkan.
Saya dapat meyakinkan Anda bahwa Perancis tidak suka pada Sarkozy sampai ke ubun-ubun sebelum penembakan itu terjadi. Bahkan para pendukungnya, yang percaya janji-janji kampanye 2007 yang tidak terpenuhi, tampaknya menanggapi dia dengan hati-hati. Ada perasaan kolektif dimana kepribadian dan kebijakannya - perasaannya kepada masyarakat umum, materialismenya, perang-perangnya, skandal-skandalnya yang mengejutkan, tanggal tertentunya dengan penyidik peradilan ketika imunitasnya sebagai presiden berakhir - telah mencemarkan jabatan kepresidenan dan seluruh rakyat Perancis di mata dunia.
Dan jika Sarkozy ternyata lebih condong ke sayap kanan untuk mendapatkan keuntungan dari pembantaian itu, saya tidak berpikir rakyat Perancis akan tertipu untuk yang kedua kali. Itu akan menjadi strategi yang tidak akan mengejutkan bagi siapa pun, dan Sarkozy tahu dia perlu perubahan: Ia adalah calon yang telah berusaha keras untuk membuat ulang gambarnya selama beberapa tahun. Melambaikan bendera Toulouse yang berdarah hanya akan mengkonfirmasi bahwa pemilihan kembali atas Sarkozy adalah sikap oportunis yang sama yang telah membuat presiden yang paling tidak populer dalam sejarah pasca perang.
Saya pikir pemilih Perancis akan memberi dukungan bagi Hollande yang anti-penghematan untuk mengambil kendali, selama ia menghindari untuk mencoba menjerumuskan Muslim dan imigran ke dalam lumpur, jika ia dapat mempertahankan martabatnya. Heck, dari kubu Sosialis, bahkan tidak bisa melakukannya - ingatlah Dominique Strauss-Kahn - dan mereka setidaknya masih punya 10 poin lebih tinggi di babak final.
Pada akhirnya, Perancis adalah negara kesatuan yang lapar dan tenang setelah lima tahun diperintah oleh presiden pemecah belah dan hiperaktif. Mereka mencari seseorang yang tidak akan menaikkan usia pensiun dan tidak lebih memberikan hambatan ekonomi selama masa ekonomi yang sulit. Mereka juga ingin menghindari - seperti terbukti dari terjadinya perang-perang mengerikan dalam 150 tahun terakhir - untuk menjadi boneka dari orang Jerman yang suka menggertak, yang merasa benar sendiri.
Jika saya salah, maka bagi rakyat Perancis yang berpikiran waras dan berbudaya tinggi, mereka mungkin adalah orang bodoh sebagaimana bodohnya orang Amerika yang memberikan George W. Bush jabatan kepresidenan yang kedua kalinya.
Seperti Amerika Serikat, Perancis ternyata mampu menghasilkan para pemikul senjata psikopat yang ingin semua orang menodai suatu kelompok tertentu dengan kuas yang sama. Mari kita berharap kesamaan-kesamaan negatif seperti itu tidak bertahan melalui pemilihan presiden Perancis.
Sumber :www.presstv.ir;/span>
(translated by Riza Aulia)

Post a Comment