JAKARTA,- Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang merasa keselamatannya terancam jelang kenaikan harga BBM dinilai sebagai sesuatu yang aneh. Pasalnya, presiden dijaga ketat oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
"Saya tidak melihat Paspamres dan aparat keamanan lainnya, lelai dan kendor, dalam melaksanakan tugas pengamanan pada Presiden dan Keluarganya. Sehingga saya tidak tahu, kenapa sampai terlontar dari Presiden bahwa ia terancam keselamatannya," kata anggota Komisi I DPR RI Helmy Fauzi menanggapi keluhan Presiden SBY yang mengaku terancam keselamatannya di Jakarta, tadi malam.
Sebagai anggota DPR yang bertanggungjawab dan berkoordinasi dengan TNI, termasuk di dalamnya ada Paspamres, Helmy mengaku tidak melihat adanya unsur dari aparat pengamanan itu yang tidak bekerja sebagai mana mestinya. Bahkan pengamanan secara khusus pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarganya oleh Tim pengamanan Presiden (Paspamres), dibantu oleh anggota TNI, Polri dan BIN, sudah sangat memadai dan cukup.
"Kalau saya menangkap atas keluhan Presiden, keselamatannya diincar dan terancam ini seolah-olah Presiden tengah protes pada aparat keamanan yang menjaganya, kan demikian diterjemahkan oleh orang awam sekalipun. Padahal menurut saya, aparat keamanan (Paspamres) telah bekerja baik. Sehingga saya tidak melihat ada celah sedikitpun, yang mengarah dapat membahayakan dan mengancam keselamatan Presiden," jelasnya.
Dia justru menyayangkan sikap Presiden, yang secara vulgar menyatakan kondisi keamanannya terancam. Seharusnya, kata dia, hal seperti ini disampaikan Presiden secara tertutup kepada bawahannyas sehingga aparat keamanan dapat melakukan evaluasi terkait standar pengamanan yang selama ini sudah dijalankan untuk Presiden dan keluarganya. Dan kalau perlu langsung dilakukan peningkatan dan penambahan jumlah aparat pengamana Presiden.
"Terlebih Presiden itu kan Kepala Negara dan Pemerintahan,yang memiliki kuasa dan wewenang untuk meminta penambahan pengamanan pada dirinya.Tidak seperti saat ini,lebih memilih cuap-cuap dan vulgar menyampaikannya di publik," terangnya.
Bagi dia, sikap dan tidakan Presiden yang mengaku terancam keselamatannya dan menyampaikan ke publik ini, akan menimbulkan persepsi lain pada masyarakat.
"Masyarakat justru akan balik bertanya, ada apa dengan Presiden ini. Kenapa terkesan merasa ketakutan kalau Presidennya merasa terancam keselamatannya, bagaimana dengan masyarakat sendiri yang tidak memiliki pasukan keamanan yang lengkap dan melekat seperti yang dinikmati Presiden. Pasti tentu jauh lebih merasa terancam. Pandangan masyarakat lainnya, Presiden tengah mencari perhatian dari masyarakat. Sebab sebelumnya Presiden juga pernah menyatakan hal yang sama di Istana Negara beberapa waktu lalu," tandasnya.
Memang tidak ada aturan atau undang-undang bagi seorang presiden untuk mengutarakan curahan (curhat) hatinya atau permasalahan yang sedang dihadapi ke masyarakat. Tapi secara moral seorang kepala negara, termasuk kepala pemerintahan tidak pantas berkeluh kesah di hadapan rakyatnya. Hal itu karena seorang presiden adalah simbol dari optimistis ketika negara sedang terpuruk.
Kehadiran seorang presiden, dan pernyataan seorang presiden harus mampu meyakinkan publik untuk bangkit dari keterpurukannya, bukannya sebaliknya. Malah presiden yang mengeluh disaksikan rakyatnya, mengeluh diancam lawan politik dan lain sebagainya.
Juru Bicara Front Oposisi Rakyat Indonesia, Riza Damanik mengatakan perilaku Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berulangkali curhat di hadapan publik mengkorfirmasi bahwa sesungguhnya dia tidak dalam posisi yang tepat menjadi seorang presiden, pemimpin, pengayom dan pelindung rakyat.
Rakyat sedang terpuruk, nelayan dan petani-petani mengeluh karena kenaikan BBM, harga pupuk mahal, cuaca buruk dan seterusnya sehingga menyebabkan mereka semakin miskin. Mereka membutuhkan seorang pemimpin dan presiden yang mendengarkan kondisi yang dihadapi mereka.(dat18/okz/antara/wol)

Post a Comment