"Naikkan BBM, Tapi Cepu Diabaikan Pemerintah"

 77881_kilang_mini_minyak_blok_cepu_di_kalitidu__bojonegoro__jawa_timur_300_225.jpg (300×225)

Indonesia hanya bisa produksi dari ladang minyak yang ada sebanyak 800 ribu bph.



Pemerintah berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk menjaga agar APBN tetap sehat. Namun, pemerintah dianggap mengabaikan sumber devisa yang ada.

Analisis keamanan energi, Dirgo W Purbo, mengatakan salah satu sumber devisa yang berpotensi misalnya, ladang minyak di Cepu. Ladang minyak ini, kata Dirgo pernah dijanjikan dapat memproduksi hingga 150 juta barel.

"Tapi sampai sekarang ini belum bisa diproduksi," kata Dirgo dalam diskusi "Polemik" Sindo Radio bertema "Jeratan dan Jeritan BBM" di Jakarta, Sabtu 17 Maret 2012.

"Satu sisi pemerintah akan menaikkan harga BBM ini, mengapa ladang minyak Cepu tidak segera diproduksi," lanjutnya.

Menurut Dirgo, sampai saat ini Indonesia hanya bisa produksi dari ladang minyak yang ada sebanyak 800 ribu barel per hari (bph). Dengan dioptimalkannya ladang minyak Cepu, maka minimal produksi minyak bisa mencapai 1 juta bph dan belum lagi kandungan gas di dalamnya.

"Sekarang kesulitan mencari sumber gas di luar Republik Indonesia. Kita ekspor gas keluar, tapi di dalam jerit-jerit. Tapi, ada satu ladang yang tidak dimanfaatkan," kata dia.

Dirgo juga mengkritik kinerja Komisi VII dan XI DPR yang tak bergerak mendorong pemerintah agar ladang minyak Cepu segera diproduksi. Pemerintah, kata dia seharusnya memikirkan pasokan energi. Jika tidak, tak akan ada ketahanan energi nasional sehingga mengambil jalan pintas dengan menaikkan harga BBM.

"Pertumbuhan ekonomi itu terkait ketersediaan energi. Dunia luar menghadapi kompetisi akses ke sumber energi, justru kita impor 1,6 juta barel per hari, kita alami kesulitan bagaimana memasukkan ke Indonesia," kata dia.