Pesantren Pelajar dan MahasiswaTidak hanya mempelajari ilmu alat da fiqih, para santri pun dibekali ketrampilan agar dapat hidup mandiri. Suasana lebaran sangat terasa di Alun-alun Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Pasalnya, tidak sedikit pemudik yang menggunakan sepeda motor dari Bandung menuju Garut beristirahat di halaman Masjid Besar Tanjungsari. Tepat di depan masjid tampak Kantor Kecamatan Tanjungsari yang hanya terhalang jalan raya Bandung-Sumedang dan taman alun-alun. Puskesmas tampak dengan jelas di sebelah kiri taman. Siapa saja mestilah melewati jalan yang menghubungkan Kecamatan dan Puskesmas itu bila ingin ke Pondok Pesantren Al Mahmud yang berlokasi tepat di belakang kantor kecamatan. Berkebalikan dengan suasana masjid, ternyata di ponpes sepi. “Para santri sedang mudik,” ujar KH Sobana, Pimpinan Ponpes Al Mahmud sembari mempersilakan Media Umat mencicipi berbagai macam kue lebaran yang dihidangkan. Mengenang Penghulu Lebih dari seperempat abad Sobana memimpin ponpes ini. Sejak masih bernama Al Birkah hingga berganti nama menjadi Al Mahmud, dengan sabar dan penuh dedikasi ia pelihara pesantren peninggalan mertuanya itu. KH Mahmud, itulah nama pendiri pesantren yang terletak di jantung kota Kecamatan Tanjungsari yang terkenal dengan bakau molenya itu. Ia adalah tokoh masyarakat yang dikenal luas masyarakat setempat. Maklumlah pada waktu itu ia sebagai Ketua Kantor Urusan Agama (KUA). Bahkan ia semakin dikenal masyarakat Sumedang dan Serang setelah ia menjadi Ketua KUA Sumedang kemudian berlanjut menjadi Penghulu Karesidenan Serang. Setelah pensiun, kemudian ia kembali lagi ke Tanjungsari. Pada 1973, ia mendirikan ponpes tepat di cekungan yang pada zaman penjajahan Belanda dulu merupakan kolam besar atau situ. Sehingga ia namakan ponpesnya dengan nama Al Birkah alias situ dalam bahasa Arab. Di sana ia habiskan sisa hidupnya untuk membina karena ia berprinsip boleh saja pensiun dari pekerjaan, tetapi pengabdian dan pembinaan masyarakat dengan ilmu-ilmu Islam tidak boleh pensiun. Pada 1984, pendiri ponpes yang beralamat di jalan Nusa Indah nomor 6, Alun-alun Tanjungsari Sumedang ini pun menghadap Sang Maha Pencipta. Kepemimpinan ponpes pun beralih kepada salah satu menantunya yang sangat aktif berperan memakmurkan Al Birkah yakni KH Sobana. Untuk mengenang jasanya dalam mendirikan dan merintis ponpes inilah, maka atas kesepakatan keluarga besar, pada tahun 1990, Ponpes Al Birkah berganti nama menjadi Ponpes Al Mahmud. Nyaris Gratis Sejak didirikan hingga saat ini ponpes tersebut murni hanya mengajarkan ilmu-ilmu alat, tauhid dan fiqih. Sehingga untuk pengetahuan umum para santri bersekolah di luar ponpes. Semuanya belajar setiap ba'da shalat fardhu, kecuali bila santri sedang ada di luar karena kuliah atau sekolah. Karena memang santri yang mondok di Al Mahmud merupakan pelajar SMP dan SMA yang bersekolah di Tanjungsari dan sekitarnya serta para mahasiswa yang kuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UNPAD Jatinangor, UNWIM Tanjungsari dan Jatinangor, dan IKOPIN Jatinangor. Setiap ba'da shalat Shubuh, pengajian dilakukan dengan sistem bandungan, yakni kyai membaca kitab, santri ikut membaca dan menulisnya per kalimat. Sedangkan sorogan setiap ba'da shalat Dzuhur yakni satu persatu santri membacakan kitab kajiannya. Ba'da Ashar, berupa talaran, yakni setoran hafalan pelajaran yang dikajinya. Sedangkan ba'da Maghrib atau ba'da Isya' diadakan diskusi mengenai berbagai macam masalah yang ditemukan terkait materi yang dipelajari. Sedangkan kitab-kitab yang dipelajari ialah Kitab Suci Alquran, kitab-kitab nahwu, sharaf, balaghah, tafsir dan hadits, tauhid, fiqh dan tasawuf. Di samping santri yang mondok tersebut, terdapat juga santri dan santriwati yang tidak mondok alias ngalong yang berjumlah 300 orang, mereka semua merupakan siswa sekolah dasar. Mereka belajar setiap ba'da Ashar sampai Maghrib. Anak-anak yang pada umumnya berasal dari daerah sekitar itu dibimbing untuk belajar baca Alquran serta belajar tauhid, fiqh, dan akhlak. Mereka ditarik biaya Rp 5.000 per bulan. Iuran tersebut tergolong sangat murah untuk ukuran zaman sekarang yang serba mahal ini. Apalagi bagi yang mondok, sudah pasti belajarnya terhitung gratis, serta tempat tinggal yang nyaris gratis, karena para santri hanya dikenai biaya Rp 15.000 per bulan! Dengan fasilitas masjid, kobong (penginapan), kantor, kantin, perumahan ustadz, staf pengajar (lima kiai dan para santri senior). Sedangkan untuk makan, Al Mahmud hanya menyediakan dapur umum, santri boleh memasak di sana atau membawa makananan dari luar. Prestasi dan Pengabdian Setiap ada even Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) santri Al Mahmud selalu ikut serta, tidak jarang pula menjadi juara qiraah, kaligrafi, dan tahfidz Alquran tingkat Kabupaten Sumedang. Di samping itu santri senior seringkali menjadi relawan pada berbagai macam kegiatan sosial di antaranya ada yang dikirim ke Aceh dan Yogya pasca tsunami dan gempa. Ketika masjid besar Tanjungsari direnovasi para santri pun turut membantu pemugarannya. Sedangkan setiap Ramadhan masjid tersebut selalu dimakmurkan dengan pesantren kilat yang diselenggarakan oleh para santri Al Mahmud. Sedangkan untuk masyarakat secara umum diadakan pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu seminggu sekali. Khusus untuk para ustadz warga Tanjungsari dan sekitarnya yang biasa mengisi pengajian di tempatnya masing-masing, seringkali diundang Al Mahmud untuk mengkaji kitab kuning bahasul masail yang disampaikan ajengan dari Cileunyi, Bandung. Sobana pun menyadari para santri perlu pula dibekali ketrampilan dan keahlian sehingga setelah tidak mondok lagi di Al Mahmud mampu berdikari. Maka dibuatlah program ekstrakurikuler untuk setiap santri yang mondok. Di antaranya adalah pelatihan pertanian, perikanan (ikan hias, dumbo, dan nila) hasil kerjasama dengan dinas perikanan Kab sumedang, pengolahan susu (kerupuk susu, karamel, yughort, es krim) kerja sama dengan UNPAD. Lantas halangan apa lagi yang membuat pelajar dan mahasiswa enggan nyantri di sini?[] joko prasetyo
|

Post a Comment