Rezim SBY sangat Neoliberal, Korup dan Reshuffle demi Logistik 2014

reshuffle.jpg (450×310)
JAKARTA,- Reshuffle kabinet SBY tidak ada gunanya karena hanya menambah gemuk kabinet, pemborosan dan bau korupsi serta sangat Neoliberal. Para menteri neolib tak diganti, sementara orang-orang bermasalah tetap jadi menteri atau wakil menteri. SBY cukup sudah, kepemimpinannya sudah busuk oleh kepentingan  sesaat yang rezimis dengan standar etika yang rendah. Slogan antikorupsi ternyata bohong belaka, dan SBY harus diresufel atau diganti secepatnya.
Demikian pandangan Johnson Panjaitan, seorang advokat dan aktivis serta  mantan menko perekonomian Rizal Ramli PhD yang juga tokoh nasional dan Ketua Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARP). Keduanya berbicara kepada Metro TV Sabtu malam dengan topik reshuflle kabinet yang banyak dipertanyakan publik.
''Publik dan mediasudah kehilangan harapan dengan resufel (pembancuhan) kabinet yang justru menggemukkan kabinet, kian boros dan tak efektif serta bau KKN. Saya tidak mau punya pemimpin macam (SBY)  itu, yang justru  membiarkan KKN meluas. Ini kemunduran era reformasi,'' kata Johnson Panjaitan.
Sementara Rizal Ramli menyatakan rakyat butuh perubahan secepatnya untuk mengganti pemerintahan yang sudah  tidak bisadiharapkan lagi. ''Neoliberalisme terus dipertahankan SBY, KKN dibiarkan dan pemberantasan KKn hanya perang-perangan tanpa keseriusan, dan para petinggi yang KKN dibiarkan. Hanya mereka yang di bawah yang diberantas korupsinya. Ini semua demi pencitraan, tapi rakyat tahu sudah tak butuh lagi rezim pencitraan. Ini semua untuk logistik 2014, dan sungguh kemunduran besar,'' kata Rizal Ramli.
Kedua pembicara menekankan pentingnya gerakan perubahan untuk mengakhiri rezim korup dan boros ini karena kalau dibiarkan maka rakyat akan jadi korban terus menerus dan makin menderita. [RIMANEWS]