Gaddafi Akhirnya Dibunuh oleh Temannya Sendiri (1)



Ini adalah kemenangan HAM dan Demokrasi. Begitulah pidato Obama dalam menanggapi kematian rezim diktator Muamar Gaddafi. Semalam Gaddafi dikabarkan tewas setelah terlibat baku tembak di kota asalnya, Sirte. Kita ketahui bersama kota Sirte telah jatuh ke tangan para pemberontak setelah pertempuran sengit selama beberapa minggu.

Dalam pidatonya di taman mawar Gedung Putih, Presiden Obama mengucapkan selamat kepada para pengunjuk rasa yang menginspirasi perlawanan Arab, sekaligus tentara gabungan NATO yang melancarkan serangan bom di Libya.
Sedangkan perdana Menteri Inggris David Cameron, menyatakan bahwa kini saatnya lah bagi para korban diktator Gaddafi untuk merenung. Kematian Gaddafi, menurut pendapatnya akan membawa harapan untuk masa depan yang lebih baik dan demokratis bagi negara yang telah 42 tahun lamanya berada dibawah tekanan Gaddafi. Perdana mentri Inggris itu dengan bangga akan peran Inggris dalam kejatuhan rezim Gaddafi.
Sapanyana, dibalik perlawanan keras Gaddafi terhadap Barat, terselip kisah klise dalam sebuah perjuangan. Bahwa Gaddafi terlihat kencang memusuhi Barat, itu memang sebuah fakta lisan yang ia pamerkan kepada dunia. Namun fakta di lapangan kadang bisa berkata lain.
Jarang diketahui banyak orang, di tengah retorikanya selama ini, Gaddafi tergolong mitra Barat dalam berbagai sektor. Dalam bidang senjata misalnya, banyak peralatan tempur Libya justru dibeli dari Inggris. Menurut laporan AP, setidaknya Inggris telah menjual sekitar $ 55 juta peralatan militer dan paramiliter sampai dengan 30 September 2010.
Menurut data statistik yang dikeluarkan Departemen Luar Negeri Inggris, peralatan militer yang dibeli Gaddafi sangat beragam. Misalnya, senapan sniper, kendaraan antipeluru, amunisi kontrol, dan tak ketinggalan gas air mata.
Sejumlah dokumen yang terserak di kompleks tempat tinggal pemimpin Libya itu pun menunjukkan bahwa dinas Intelijen Inggris M-16 telah lama menjalin kerja sama dengan intelijen Libya dalam memburu orang-orang yang menentang Gaddafi.
Kasus ini tidak saja sempat terungkap di Libya, tapi juga di Inggris. Sabri Malik, anggota Partai Demokrat Libya di London pernah membongkar kerjasama Dinas Intelijen Inggris dengan Dinas Intelijen Muammar Gaddafi, diktator Libya.
Bulan lalu ia menandaskan bahwa MI5 dan MI6 menyerang rumah ketua Partai Demokrat Libya di Inggris. Selain mencuri seluruh data yang dimiliki Partai Demokrat, mereka juga menyerahkan data tersebut kepada dinas intelijen Muammar Gaddafi.
Bahkan satu tahun pasca sanksi militer yang diterapkan Amerika Serikat terhadap Libya, Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris saat melawat Tripoli tahun 2007 menyerahkan sistem telekomunikasi militer terbaru kepada Gaddafi. Sistem ini juga membantu diktator Libya lolos dari tangan kubu revolusi. Dari sini kita akan bertanya-tanya bahwa betulkah Gaddafi berlawanan dengan Barat?
Tidak ayah, tidak anak. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Khamis Khadafi, salah satu putra Khadafi yang memegang peranan penting dalam militer rezim dikator Libya, memiliki kisahnya tersendiri.
Anak termuda Gaddafi itu pernah melakukan kesepakatan sebesar 85 juta poundsterling dengan Inggris untuk mendatangkan sistem kontrol militer. Pasukan Brigade Khamis pun juga dilatih oleh SAS (Special Air Service) yang notabene dipersenjatai oleh perusahaan Inggris.
Pasukan khusus Inggris itu melatih pasukan Libya berdasarkan perjanjian kerjasama antar kedua Negara di tahun 2009. “Inggris dan Libya menjalin kerjasama di bidang pertahanan,” kata salah seorang jubir kementerian LN Inggris di London saat itu.
Namun naas, Khamis pun akhirnya tewas (5/8/2011) oleh serangan udara NATO. Seluruh tubuh pria berusia 27 tahun itu penuh dengan luka bakar. Yang mesti kita catat baik-baik, Inggris adalah salah satu Negara yang sangat giat memprovokasi agar anggota NATO lainnya melakukan serangan udara ke dataran Libya.
Pada dasarnya, 28 anggota NATO memiliki tujuan sama untuk menyaksikan berakhirnya rezim Gaddafi di Libya. Keretakan pun akhirnya terjadi di tubuh NATO karena Turki dan Jerman tergolong dua Negara yang menentang misi di Libya.
Walhasil, hanya enam dari 28 anggota NATO, yaitu Prancis, Inggris, Kanada, Belgia, Norwegia dan Denmark, yang melakukan serangan udara. Dan Inggris adalah fihak pertama bersama Amerika Serikat yang memuntahkan 112 peluru kendali (rudal) ke sejumlah pertahanan udara Libya.
Empat bulan kemudian, jet tempur Inggris menyerang pasukan Muamar Gaddafi di tiga wilayah berbeda, sehari setelah pemimpin terguling Libya itu mengejek pemboman NATO tidak akan lama. Di kantong pendukung Qaddafi, Bani Walid, pesawat Inggris meluluh-lantakkan sarana kendali dan melumatkan sasaran serupa kedua di Hun, 260 kilometer di tenggara.
Berakhirlah masa manis nostalgia Gaddafi dengan dataran Britania. Nostalgia indah yang pernah ia bina bersama musuh-musuh Allah itu. Padahal senjata yang dipakai untuk menyerangnya notabene pernah ia nikmati juga ketika menembaki para demonstran bulan februari yang menewaskan puluhan ribu umat manusia. (Pz/bersambung)