Yaman yang Bergolak, Saudi yang Kelabakan

http://static.republika.co.id/uploads/images/headline/tentara-yaman-menangkap-pengunjuk-rasa-anti-pemerintah-dalam-sebuah-demonstrasi-_110610192936-703.jpgJEDDAH – Kian memburuknya kerusuhan politik dan ketidakamanan di Yaman, menimbulkan kekhawatiran di Arab Saudi akan adanya upaya infiltrasi warga Yaman ke kerajaan tersebut, dan kemungkinan mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ada juga kekhawatiran bahwa para penyelundup dapat meningkatkan aksinya di sepanjang perbatasan bersama tersebut. Selain itu, banyak pula warga Yaman yang ingin melarikan diri dari perang dan datang ke Saudi untuk mencari perlindungan.

"Kami telah menggali parit, memasang kawat berduri permanen, menanam kamera termal, memperkenalkan sistem pencetakan sidik jari (untuk imigran) dan mengintensifkan pengawasan oleh patroli keamanan dalam upaya untuk mencegah infiltrasi," kata seorang penjaga perbatasan yang enggan disebutkan namanya.

"Beratnya medan perbatasan menyulitkan kedua belah pihak (Yaman dan Saudi) dalam mengontrol operasi-operasi penyelundupan," tambahnya.

Sementara itu, Abdullah Ahmad—ekspatriat Yaman yang tinggal di Jazan—mengatakan, kondisi sulit yang dialami warga Yaman di negaranya, memaksa mereka untuk mengambil risiko menyeberang ke Arab Saudi secara ilegal.

Warga Yaman kerap memulai perjudian nasib mereka dari desa Tawwal, sekitar 100 meter dari perbatasan dan 80 kilometer dari Jazan. "Ada pedagang-pedagang manusia (pelaku human trafficking) yang sangat tahu daerah tersebut. Mereka tahu rute-rute yang sulit ditemukan oleh penjaga perbatasan Saudi," tuturnya.
REPUBLIKA.CO.ID