JAT Menyangkal Terlibat Penembakan Polisi


Pengurus Jamaah Anshorut Tauhid membantah tuduhan Markas Besar Kepolisian Indonesia yang menyatakan bila otak penembakan polisi di depan kantor Bank Central Asia Kota Palu, Sulawesi Tengah, terkait dengan mereka. “Datanya dari mana?” kata Abdul Rohim, Juru Bicara Abu Bakar Ba’asyir, saat dikonfirmasi Tempo, 6 Juni 2011.

Peristiwa penembakan itu terjadi 25 Mei lalu. Dua pelaku yang mengendarai sepeda motor RX King memasuki kantor Bank BCA di Jalan Emy Saelan sekitar tiga ratus meter dari Kompi 711 TNI, Raksatama, Palu. Aksi itu menewaskan dua anggota polisi Brigadir Dua Irbar Prawiro dan Brigadir Dua Yudhistira Pranata Putra. Juga melukai Brigadir Dua Dedi Edwar yang hingga kini masih menjalani perawatan.

Dalam penjelasannya, putra Abu Bakar Baasyir mengaku kaget dengan tuduhan Polri yang selalu mengaitkan serangkaian kegiatan teroris di Indonesia dengan aktivitas JAT. Padahal, selama ini semua tuduhan yang diarahkan tidak bisa dibuktikan. “Kok bisa larinya selalu ke kami (JAT),” ujarnya. 

Menurutnya, Polri seharusnya bersikap hati-hati dengan semua keterangan yang diberikan kepada masyarakat, terlebih dengan selalu mengaitkannya dengan JAT. Hal itu bisa menimbulkan dampak psikologis tidak baik bagi pengikut JAT. 

Selain itu, ia juga menyebut proses penyidikan yang dilakukan kepolisian tidak memiliki standar, sehingga keterangan yang disampaikan tidak bisa membuktikan keterkaitan JAT.

“Ini seakan pembentukan opini di masyarakat bahwa seolah-olah ustad Abu (Ba’asyir) itu yang menggerakan semuanya,” ujarnya. “Sekali lempar semuanya dapat, termasuk JAT.”

Soal Abu Tholut, ujar Rohim, yang diduga menjadi komandan pelatihan di perbukitan Poso, ia meminta Polri membuktikan keterlibatan anggotanya dengan memberikan data yang valid. 

“Berikan dia (Abu Tholut) kesempatan untuk langsung menjelaskan di muka umum,” ujarnya. “Hingga saat ini kami belum punya cabang JAT di sana (Sulawesi).”

Sebelumnya, Mabes Polri telah mengumumkan pelalu penembakan di Palu ada hubungannya dengan aktivitas JAT pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Polisi menyebut aksi tersebut ada kaitannya dengan Abu Tholut. Ia bukan orang baru dalam aksi teror di Indonesia. Ia pernah divonis delapan tahun penjara dalam kasus aksi teror di Atrium Senen, Jakarta, awal Mei 2004 dan kembali ditangkap pada 10 Desember 2010 di Kudus, Jawa Tengah. 

Dua tersangka, yakni Hariyanto dan Furqon, telah diamankan. Sedangkan tiga lainnya hingga kini masih menjadi incaran polisi. Mereka berinisial S alias AW, B alias O, dan NM alias PE. (tempointeraktif.com, 6/6/2011)