"Sesuai Rencana", Misi Teroris NATO Jadi Kuburan Eropa

TRIPOLI – Operasi Barat melawan Moammar Gaddafi berkembang "sesuai rencana". Menggunakan dukungan udara NATO, para pemberontak perlahan tapi pasti mulai mengepung pasukan sang Kolonel. Pertahanan udara Libya dikatakan tidak bisa menahan serangan udara dan rudal dari aliansi. Di bawah skenario itu, dalam waktu maksimal satu bulan sebagian besar peralatan beratnya akan hancur. Jalan ke Tripoli akan terbuka bagi pemberontak.
Berapa lama Kolonel akan bertahan dari serangan udara dan laut? Tampaknya, selama yang dia mau, tapi dia tidak akan menyerah secepat yang diinginkan NATO. Dia tidak memiliki masalah dengan amunisi dan persenjataan kecil, tapi hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk semuanya. Analis Barat mengandalkan fakta bahwa cadangan makanan akan membuat Gaddafi mampu bertahan paling lama empat bulan.
Jika perjuangannya berlanjut, pasukan darat aliansi akan terlibat. Perwakilan mereka sudah terlibat dalam pertempuran bersama pemberontak, sebagian besar dari mereka tidak fasih dalam urusan militer. Apapun itu, kekuatan Barat tidak memulai operasi untuk menggulingkan sang Kolonel ini hanya untuk berhenti di tengah jalan.
Persoalan Libya tidak akan berhenti hanya sampai penggulingan Gaddafi. Setelah itu Barat akan harus bertanggung jawab atas transformasi lebih jauh dari Libya. Akankah Timur dan Barat, Cyrenaica dan Tripolitania, mampu berdampingan di satu negara? Itu adalah pertanyaan yang sangat besar. Mungkin itu hanya akan mungkin di bawah kekuasaan pemimpin yang otoriter. Mengingat fakta bahwa pemberontak mewakili kepentingan sebagian rakyat Libya dari Timur, pengganti Kolonel mungkin akan berasal dari sana.
Namun, apakah Tripolitania yang pada suatu titik memilih Gaddafi, menoleransi perwakilan dari Cyrenaica, masih menjadi pertanyaan. Ini bukan hanya persoalan kekuasaan tapi juga soal redistribusi pendapatan minyak negara.
Persyaratan kerja dalam pasar energi Libya untuk perusahaan asing sangat berat. Meski demikian, mereka bekerja di sana karena biaya produksi per barel tidak melampaui dua dolar.
Bisakah kita benar-benar mengatakan bahwa oposisi yang dinaikkan ke kekuasaan oleh Barat akan memainkan peraturan yang sama dengan Gaddafi? Apapun itu, akan tampak logis jika pihak yang ditunjuk oleh Barat berterima kasih kepadanya untuk bantuan militer dengan menyediakannya lebih banyak kontrak yang menguntungkan.
Jumlah pendapatan dari penjualan sumber energi Libya ke pasar dunia akan jauh lebih sedikit daripada era Kolonel. Ini berarti rakyat Libya akan harus melupakan tentang keuntungan yang mereka miliki di bawah Gaddafi, seperti misalnya seliter bensin dengan harga 14 sen, atau pinjaman bebas bunga untuk pembelian rumah.
Akan seberapa loyalkah rakyat Libya terhadap pemerintahan semacam itu dan akankah pemerintah mampu menyediakan pasokan stabil minyak dan gas untuk luar negeri? Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapapun. (rin/pv) www.suaramedia.com