JAKARTA-Kepala Badan Nasional Penangulangan Terorisme Ansyaad Mbai menyatakan, intelijen tidak selamanya kuat dan berhasil mengantisipasi semua persoalan.
"Operasi intelijen juga kadang-kadang bobol. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, juga di negara-negara lain di dunia," kata Ansyaad Mbai pada diskusi "Polemik: Setelah Buku Terbitlah Isu" di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, setiap kali terjadi peledakan bom masyarakat sering mempertanyakan bagaimana kerja intelijen.
Pada teror bom dengan modus kiriman paket buku, kata dia, masyarakat juga mempertanyakan bagaimana kerja intelijen. "Intelijen sudah bekerja dengan baik," katanya.
Ia meminta kepada masyarakat untuk mempercayakan penanganan kasus teror bom buku ini kepada polisi.
"Saat ini polisi sedang bekerja untuk mengungkap modus, sasaran, dan pelaku bom buku," katanya.
Namun, perwira tinggi polisi ini mengakui, persoalan yang dihadapi intelijen saat ini adalah anggaran yang kurang memadai dan kewenangan yang terbatas.
Ia mengusulkan agar, DPR RI dan Pemerintah segera melahirkan UU tentang Intelijen sehingga bisa memberikan ruang gerak kepada polisi dan intelijen bisa bertindak lebih proaktif.
"UU yang ada saat ini kurang memberikan kewenangan kepada polisi dan intelijen," katanya.
Ansyaad berharap, RUU tentang Intelijen yang sedang dibahas di DPR RI saat ini bisa meningkatkan peran dan kewenangan intelijen.
Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membantah tudingan ada sekelompok intelejen hitam yang menjadi otak teror bom berbentuk buku. Menurutnya, pelaku teror tersebut tidak jauh-jauh dari kelompok lama.
"Tidak ada itu intelejen hitam, omong kosong. Pelakunya ya tidak jauh dengan kelompok lama," tutur Ansyaad dalam diskusi Radio Trijaya di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakpus, Sabtu, (19/3/2011) siang.
Menurutnya, pelaku teror bom buku telah sukses menjalankan tugasnya, karena telah muncul tudingan yang menyudutkan intelijen. Dia menyebut tujuan dari si pelaku selain membuat resah masyarakat adalah untuk menyudutkan intelijen.
"Berarti tujuan pelaku telah tercapai. Itu kan yang mereka inginkan," terang Ansyaad.
Seperti diketahui, pasca pengiriman bom berbentuk buku pada Selasa (15/3) dan Rabu silam, muncul tudingan bahwa itu diduga dilakukan oleh intelijen hitam. Intelijen ini ditengarai mengirim bom buku untuk memojokkan terdakwa teroris Abu Bakar Ba'asyir.
"Intelijen hitam adalah gerakan intelijen tanpa instruksi resmi atau bergerak sendiri yang ingin memojokkan kalangan tertentu, dan saya lihat yang dipojokkan adalah Abu Bakar Ba'asyir. Waktunya sedang tepat, bersamaan dengan masa sidang Ba'asyir," tutur Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum Pusat, Mustofa B Nahrawardaya. (fn/ant/dt) www.suaramedia.com
Post a Comment