Pengakuan Dosa Cameron: Dukung Diktator Merusak Timur Tengah

KUWAIT (Berita SuaraMedia) – Inggris dan AS telah memperburuk stabilitas di Timur Tengah dengan mendukung rejim otoriter yang menindas hak asasi manusia, David Cameron mengatakan. Perdana Menteri mengatakan bahwa perlawanan populer sekarang bergejolak di seluruh Timur Tengah menunjukkan bahwa Barat telah salah untuk mendukung para diktator dan rejim yang tidak demokratis.
Ia juga menyarankan bahwa sejarah Barat memandang bahwa negara-negara Arab secara sosial tidak cocok untuk demokrasi "yang membatasi rasisme." Gagasan tentang sebuah "pengecualian Arab" adalah "salah dan menyinggung", ia mengatakan.
Berbicara kepada majelis nasional Kuwait, Cameron mengatakan bahwa Inggris akan mendukung para pelaku kampanye demokrasi yang sekarang mengusahakan hak-hak yang lebih besar di seluruh Timur Tengah.
"Sejarah menyapu seluruh bagian lingkungan Anda," ia mengatakan. "Tidak sebagai sebuah akibat dari paksaan dan kekerasan, namun oleh orang-orang yang mengusahakan hak-hak mereka, dan di mayoritas besar kasus dilakukan dengan jalan yang penuh damai dan dengan keberanian."
Di masa silam, kebijakan asing Inggris telah menempatkan kepentingan ekonomi sendiri di atas mempromosikan nilai-nilai demokratis Barat, Cameron mengatakan.
Inggris dan negara Barat lainnya mendukung Hosni Mubarak, digulingkan oleh protes di Mesir awal bulan ini.
Di bawah Buruh dari tahun 2004, Inggris juga memperkuat hubungan dengan Moammar Gaddafi dari Libya, yang rejimnya sekarang mulai hancur di tengah-tengah skena kekerasan. Keduanya, Tony Blair dan Gordon Brown bertemu dengan diktator Libya tersebut untuk mempromosikan kepentingan perusahaan-perusahaan energi Ingris di negara tersebut: sekitar 150 perusahaan Inggris sejak saat itu telah melakukan bisnis di sana.
AS dan Inggris juga telah lama menjadi pendukuung rejim otoriter di kawasan Teluk termasuk Arab Saudi, membuat hanya upaya-upaya terbatas untuk mendorong para penguasa tersebut menuju reformasi demokratis.
Menutup mata mereka untuk penindasan adalah salah dan kontra-produktif, Cameron mengatakan.
"Selama berpuluh-puluh tahun, beberapa telah berpendapat bahwa stabilitas membutuhkan rejim yang sangat mengendalikan, dan bahwa reformasi dan keterbukaan akan menempatkan stabilitas tersebut dalam bahaya. Sehingga argumen tersebut berlanjut, negara-negara seperti Inggris menghadapi sebuah pilihan antara kepentingan kami dan nilai-nilai kami.
"Dan jujur saja, kami seharusnya menyadari bahwa terkadang kita telah membuat kalkulasi semacam itu di masa silam. Namun saya mengatakan itu adalah pilihan salah.
"Ketika peristiwa baru-baru ini telah menegaskan, membantah hak-hak dasar rakyat tidak melestarikan stabilitas. Pada faktanya, hal tersebut benar-benar berkebalikan."
Ekonomi dan keamanan Inggris akan pada akhirnya dikembangkan oleh Timur Tengah yang lebih demorkatik, ia mengatakan.
"Kepentingan kami terletak dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kami – bersikeras pada hak untuk protes dengan penuh damai, dalam kebebasan berbicara dan internet, dalam kebebasan berkumpul dan aturan hukum."
Cameron bersikeras bahwa ucapan-ucapannya tidak berarti bahwa Inggris akan berusaha untuk memaksa rejim Teluk untuk menjadi demokrasi dengan gaya Barat. Namun ia menjanjikan sebuah pendekatan yang lebih kritis untuk catatan hak asasi dan kebebasan mereka.
"Tidak ada satu formulapun untuk kesuksesan, dan ada banyak cara untuk memastikan partisipasi populer dan lebih besar dalam pemerintahan," ia mengatakan. "Kami menghormati hak Anda untuk mengambil keputusan Anda sendiri, sementara menawarkan niat baik dan dukungan kami."
"Namun kami tidak bisa diam saja dalam kepercayaan kami bahwa kebebasan dan aturan hukum adalah apa yang terbaik yang menjamin perkembangan manusia dan kesuksesan ekonomi, dan bahwa setiap negara seharusnya menemukan jalannya sendiri untuk mencapai perubahan yang penuh damai."
Pada sebuah konferensi pers kemudian, Cameron ditanyai oleh seorang jurnalis Kuwait apakah Barat sedang menerapkan standar berbeda kepada rejim-rejim Timur Tengah.
"Saya tidak akan menerima bahwa kami telah tidak konsisten dalam perlakuan kami terhadap negara yang berbeda," Cameron menjawab. Namun menekankan untuk mengatakan secara eksplisit jika pesan pro-reformasinya diterapkan untuk Arab Saudi, Cameron membantah untuk menjawab.
Cameron sekali lagi membela keputusannya untuk membawa beberapa eksekutif industri pertahanan di dalam tur Timur Tengahnya. "Sebuah industri yang tertata dengan benar, tidak ada yang perlu merasa dipermalukan," ia mengatakan. (ppt/tlg) www.suaramedia.com