MENYERU KEPADA ISLAM

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah kembali (kita)" (TQS al-Syura [42]: I5).

Dalam berinteraksi dengan non Muslim, kaum Muslim memiliki sikap yang jelas. Perkara akidah yang menjadi dasar pembeda Mukmin dan kafir harus terus dijaga dan tidak boleh bergeser sedikit pun. Tidak boleh terpengaruh dan mengikuti keinginan mereka yang hendak menyimpangkan kaum Muslim dari agamanya. Lebih dari itu, kaum Muslimin harus aktif mengajak orang kafir memeluk Islam. Sikap yang harus diambil ini dapat dilihat pada ayat di atas.

Berdakwah dan Istiqamah

Allah SWT berfirman: Falidzaalika fad’u wa[i]staqim kamaa umirta (maka karena itu serulah [mereka kepada agama itu] dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu). Kata falidzaalika merujuk kepada ayat sebelumnya. Pada ayat sebelumnya ditegaskan bahwa agama yang disyariatkan kepada Rasulullah SAW dan para pengikutnya juga agama yang diwahyukan kepada nabi-nabi sebelumnya. Kesamaan itu terletak pada akidahnya. Akan tetapi, setelah datangnya kebenaran, Ahli Kitab justru berpecah belah. Oleh karena itu, Rasulullah SAW diperintahkan untuk mengajak mereka untuk mengikuti agama yang diturunkan kepada beliau, yakni Islam.

Seruan itu tidak hanya ditujukan kepada mereka, namun juga seluruh manusia. Sebab, Islam diperuntukan bagi seluruh manusia (lihat QS Saba' [34]: 28 dan al-A'raf [7]: 158). Dalam Alquran, cukup banyak ayat yang memerintahkan Rasulullah SAW dan umatnya untuk menyeru manusia mengikuti Islam, seperti firman Allah SWT: Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Alkitab dan kepada orang-orang yang ummi:”Apakah kamu (mau) masuk Islam?" (TQS Ali Imran [3]: 20).

Di samping itu, kaum Muslim juga diperintahkan untuk istiqaamah dengan agama tersebut. Dijelaskan Abdurrahman al-Sa'di, istiqaamah berarti sesuai dengan perintah Allah; tidak melalaikan dan tidak berlebihan; namun melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi lara-ngan-Nya; dan itu dikerjakan secara terus-menerus.

Perintah itu dikukuhkan dengan firman-Nya: walaa tattabi’ ahwaa’ahum (dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka). Dijelaskan al-Jazairi dalam Aysar al-Tafaasir, 'mereka' di sini adalah kaum musyrik dan ahli kitab. Umat Islam dilarang mengikuti hawa nafsu mereka.

Jika ditelusur, hawa nafsu mereka memang bertolak belakang dengan perintah Islam. Bahkan mereka menghendaki seluruh manusia berpaling dari Islam. Kaum Musyrik tak henti-hentinya memerangi kaum Muslim hingga murtad dari agamanya (lihat QS al-Baqarah [2]: 217). Sementara Yahudi dan Nasrani tidak pernah ridha selama umat Islam belum mengikuti agama mereka (lihat QS al-Baqarah [2]: 120). Oleh karena itu, jika hawa nafsu mereka diikuti, akan dapat mengeluarkan umat Islam dari agamanya (Iihat QS Ali Imran [3]: 99-100).

Adil dan Berlepas Diri dari Kekufuran

Setelah itu, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk menyampaikan beberapa perkara kepada kaum kafir dengan firman-Nya: wa qul aamantu bimaa anzalal-Laah min kitaab (dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah). Keimanan kepada kitab-kitab Allah menuntut manusia mengimaninya secara keseluruhan. Tuntutan itu telah dipenuhi kaum Muslim. seluruh kitab yang diturunkan kepada seluruh nabi diimani. Sikap ini jelas kontradiksi dengan kaum ahli kitab yang menolak mengimani Alquran. Pengingkaran itulah yang mengantarkan mereka kepada kekufuran. Sebab, mengimani sebagian dan mengingkari sebagian dapat mengantarkan pelakunya menjadi kafir (lihat QS al-Nisa' [4]: 150-151). Balasan terhadap pelakunya adalah kenistaan di dunia dan siksaan berat di akhirat (lihat QS al-Baqarah [2]:85).

Selain itu, kaum Muslim juga diperintahkan berlaku adil terhadap mereka. Allah SWT berfirman: wa umirtu lia’dila baynakum (dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu). Allah SWT berfirman: Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil (TQS al-Maidah [5]: 42).

Kemudian Allah SWT berfirman: Allaah Rabbunaa wa Rabbukum (Allah-lahTuhan kami dan Tuhan kamu). Inilah realita yang sesungguhnya yang harus disampaikan kepada kaum kafir. Bahwa Allah SWT bukan hanya Tuhan sebagian manusia, namun juga Tuhan seluruh manusia. Bahkan, Rabb al-‘aalamin (Tuhan alam semesta). Oleh karena itu, kepada-Nya pula seharusnya mereka menyembah.

Itulah seruan yang harus disampaikan kepada kaum kafir. Jika mau menerima seruan itu, mereka akan mendapatkan balasan kebaikan. Sebaliknya, jika menolak, mereka pun akan menanggung akibatnya. Umat Islam diperintahkan mengatakan kepada mereka: lanaa a’maalunaa walakum a’maalukum (bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu). Menurut Ibnu Katsir, ini merupakan ungkapan sikap berlepas tangan dari pengingkaran mereka. Ungkapan serupa juga terdapat dalam firman Allah SWT: Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan"(TQS Yunus [10]:41).

Di samping itu, juga: laa hujjah baynanaa wabaynakum (tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu). Sebagaimana disitir Ibnu Katsir, kata hujjah menurut Mujahid di sini bermakna khushuumah (pertikaian). Penafsiran yang sama juga dikemukakan Ibnu Zaid, sebagaimana dikutip Ibnu Jarir. Dituturkan al-Sudi, ayat ini turun sebelum ayat pedang (ayat yang memerintahkan berperang turun). Setelah turun ayat perang, kaum Muslim diperintahkan berperang melawan mereka. Jihad atau perang itu tidak dilakukan dalam rangka memaksa mereka masuk Islam. Sebab, mereka masih diberi kesempatan untuk menjadi kafir dzimmi yang hidup dalam negara khilafah. Namun jika pilihan itu juga ditolak, maka mereka harus diperangi hingga mau tunduk dengan negara Khilafah dan membayar jizyah (Iihat QS al-Taubah [9]:29).

Terakhir mereka diingatkan konsekuensi atas sikap mereka: Allah yajma’u baynanaa wa ilayhi al-mashir (Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah kembali [kita]). Bahwa semua sikap dan tindakan mereka akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Inilah beberapa panduan sikap yang harus dilakukan kaum Muslim ketika berinteraksi dengan kaum kafir. Jika panduan ini diterapkan, niscaya umat ini akan menjadi umat kuat. Tidak mudah diarahkan atau diintervensi seperti sekarang.

Wal-Laah a’lam bi al-shawaab
Oleh : Rokhmat S. Labib, M.E.I