Marine Le Pen Setankan Muslim Untuk Bersihkan Nama

Pemimpin Front Nasional, Marine Le Pen dalam upayanya untuk membersihkan nama baik dengan menarik dukungan publik dengan melakukan kampanye melawan komunitas Muslim. (Foto: Google)PARIS (Berita SuaraMedia) – Ada artikel menarik di Newsweek tentang pemimpin Front Nasional, Marine Le Pen, dan upayanya untuk membersihkan nama baik FN dengan menyingkirkan ekspresi antisemitisme publik dan menarik dukungan publik dengan melakukan kampanye melawan komunitas Muslim yang dibingkai sebagai daya tarik ke tradisi sekuler Perancis. Berikut adalah cuplikan artikel itu: Goresan masternya ada di dalam vernakular baru yang dia bawa. Dikalibrasi untuk massa baru, era intoleran baru dalam cara-cara yang baru, tiga tahun memasuki krisis ekonomi yang membuat politisi menjual perlindungan.
Hari-hari frase kecil tentang Holocaust tampaknya akan berakhir. "Nostalgia untuk Marshal Philippe Petain atau kaum Aljazair Perancis tidak mempengaruhinya, atau orang-orang Front Nasional dari generasinya," ujar Sylvain Crepon, seorang sosiolog dari Nanterre University yang mempelajari kelompok ekstrim kanan. "Antisemitisme tidak mempengaruhi mereka. Mereka tidak melihat ada kaum Yahudi di mana-mana, atau konspirasi Yahudi."
Tapi akan salah untuk menyebut putri Jean-Marie itu sebagai "Le Pen mini". "Pada sejumlah subyek, aku lebih tegas daripada ayahku," ujarnya. "Tentang jilbab Muslim, aku lebih tegas daripada dia. Dia pikir perilaku itu membuat orang Perancis memahami tingkat imigrasi di negara kita," ujarnya, membicarakan taktik.
Tapi dia berargumen bahwa Islamisasi hanyalah sebuah konsekuensi, yang tak terlihat 20 tahun, dari menyuburnya imigrasi yang selalu dia cela. "Dulu tidak ada jilbab, tidak ada Masjid katedral, yang muncul di setiap sudut kota," ujarnya, tanpa mengkhianati hiperbolanya. "Dulu tidak ada orang-orang yang sholat di jalan. Anak-anak kita tidak perlu tidak makan babi karena itu mengganggu orang lain," sindirnya.
Menuliskan retorika baru dalam istilah yang baru bagi Front Nasional, ujar para analis, adalah tindakan yang pintar. Ambil "sekulerisme". Saudara dari liberte, egalite, dan fraternite ini telah menjadi sebuah nilai utama dari setiap gerakan politik kecuali ektrim kanan, di mana fundamentalis Katolik enggan untuk memisahkan negara dari gereja. Memang, bagi sebagian puritan ekstrim kanan, kreativitas semantik Marine Le Pen adalah ajaran sesat partai.
"Ini adalah orang-orang yang berpura-pura untuk percaya bahwa ketika Marine berbicara tentang sekulerisme, dia sejalan dengan mereka yang memerangi Katolik satu abad lalu," ujar ayahnya. "Tapi Marine mendukung sekulerisme melawan gelombang Islam."
Sekulerisme menjadi alibi yang berguna bagi Perancis ketika Marine mengkritik kolam renang yang memenuhi kebutuhan kaum Muslim dengan jam khusus untuk wanita. Pergeseran yang halus dalam nada hari ini menjadi perangkat populer bagi para pemimpin ekstrim kanan Eropa, seperti Geert Wilders dari Belanda. Yang membuatnya menjadi tantangan nyata adalah bahwa alih-alih perdebatan lama melawan kaum Arab atau Afrika Utara, "wacara xenofobis melawan Islam, melawan sebuah agama,  dibingkai dalam nama pembelaan terhadap nilai-nilai liberal, seperti hak kaum wanita, hak kelompok gay, dan kebebasan beragama," ujar Crepon. "Itu sesuatu yang benar-benar bisa berhasil, secara elektoral." (rin/iw) www.suaramedia.com