Krisis Timur Tengah ancam harga minyak?

Minyak Timur TengahMinyak dan gas produksi Libia masih terus diekspor
Ketika dunia Arab yang kaya minyak menghadapi satu periode perlawanan rakyat dan ketidakpastian politik, investor di sektor energi saat ini merencanakan situasi tak menentu dan mahal.
Dan ketika mereka melakukan itu, harga pun naik.
Sejak aksi protes mulai bergulir, harga minyak mentah jenis Brent yang diperdagangkan di London naik lebih dari 10%.
Harga gas juga cenderung naik bersama dengan harga minyak, sehingga harga bahan bakar kendaraan dan energi, khususnya di Eropa, melonjak.
Juga ada resiko terjadi kekacauan pada sistem yang ada jika pasok minyak atau gas dari Afrika Utara ke Eropa terganggu.
Selain itu, perusahaan-perusahaan energi yang kontraknya disepakati dengan rezim-rezim yang tersingkir terpaksa harus berunding ulang atau membatalkannya setelah pemerintah baru berkuasa.
Harga saham perusahaan minyak pun turun selama protes di Timur Tengah berlangsung.
Lalu apa sebenarnya yang dipertaruhkan?

Libia

Laporan Statistik Energi BP tahun 2009 menyebut Libia sebagai eksportir terbesar ke-12 di dunia dengan sumber cadangan minyak terbesar di Afrika, dari sisi energi Libia merupakan yang paling penting.
Hingga pertengahan dekade terakhir, investasi dibatasi akibat sanksi internasional namun perusahaan Italia ENI dan perusahaan Austraia OMV ditambah Repsol dari Spanyol memiliki operasi yang secara relatif sudah berjalan lama.
Minyak LibiaWarga Libia memprotes kepemimpinan Muamar Gaddafi
Ketika sanksi internasional dicabut, Libia mengundang lebih banyak perusahaan untuk mengeksploitasi sumber minyak yang sangat besar di negaranya.
Baik BP dan Shell dari Belanda menandatangani kesepakatan untuk mengskploitasi minyak dan gas, bersama perusahaan lain seperti Statoil dan Gazprom yang membeli operasi ENI di negara itu.
Sejak kekerasan terjadi, hampir semua perusahaan mengumumkan menarik sebagian atau seluruh pegawai asing mereka meskipun produksi tidak langsung terganggu. Satu aksi mogok dilaporkan membuat sumur minyak Nafoora ditutup sementara aksi protes menyebabkan kilang minyak Rus Lanuf ditutup.
Meski semua ini pada akhirnya mengganggu pasok, pengamat minyak Platts yakin sebagian besar minyak dan gas masih bisa dikirim ke luar negeri.
Hampir seluruh produksi minyak Libia dikirim ke Eropa dengan Italia sebagai konsumen terbesar. Italia juga merupakan penerima gas yang dikirim lewat jaringan pipa antara kedua negara.
“Jika ada gangguan bisa akan sangat sensitif karena jaraknya yang sangat dekat,” ujar Richard Swann dari Platts.
“Jika anda memiliki kontrak jangka panjang untuk membeli minyak mentah yang secara rutin dipasok, akan sangat sulit untuk dengan cepat menggantinya.”
Saham perusahaan-perusahaan energi ini bisa turun lebih jauh lagi karena kontrak mereka belum aman. “Situasi keamanan mereka masih terpecah,” jelas John Mitchell dari Chatham House, “pemerintah baru apa yang akan berkuasa? Apakah pemerintah ini akan menghormati kesepakatan sebelumnya?”.

Aljazair

Aljazair protesAksi protes dilaporkan terjadi di Aljazair
Aljazair adalah produsen gas terbesar di Afrika, dan mengeksportnya lewat jaringan pila ke Italia dan Spanyol, serta lewat terminal LNG di seluruh dunia.
BP adalah investor asing terbesar di Aljazair, dengan dua sumur terbesar -salah satunya adalah sumur Salah yang merupakan kerja sama denga perusahaan Norwegia Statoil.
Karena tidak banyak informasi keluar soal aksi protes di negara ini, sangat sulit memperkirakan dampaknya terhadap pasok gas.
Gangguan pasok dipastikan berdampak pada harga energi di Eropa, namun belum ada bukti hal itu sekarang sudah terjadi.

Mesir

Mesir mengendalikan Terusan Suez dan jaringan saluran pipa. Diperkirakan 4-5% minyak dunia ditransportasikan melalui terusan ini.
Mesir juga merupakan penghasil minyak yang besar, namun karena populasinya yang besar sebagian besar produksi diperuntukkan untuk keperluan dalam dalam negeri.
Protes MesirMesir merayakan kejatuhan presiden Husni Mubarak
Negara ini baru saja menemukan sejumlah sumber gas, dan hasil produksinya diekspor ke Amerika, Spanyol dan Inggris. Produksi diperkirakan akan meningkat tajam jika negara itu kembali stabil.
Seperti Aljazair, BP menjadi investor asing terbesar di Mesir meski sudah menjual sejumlah asetnya ke perusahaan AS Apache.
Kelompok BG mengatakan memproduksi 35% gas negara itu, sementara operasi Shell juga cukup besar.
Meski kekhawatiran soal terusan sudah hilang, perusahaan-perusahaan energi harus menunggu dan mengamati apakah pemerintah baru akan menghormati kontrak sebelumnya.
“Kontrak-kontrak itu dipandang terlalu menguntungkan perusahaan,” ujar Mika Minio dari Platform, LSM yang mengawasi industri minyak di kawasan.

Negara lain

Tunisia, Bahrain dan Yaman juga memiliki peran cukup penting, meski lebih terbatas, di bidang energi. Di Tunisia, Kelompok BG adalah produsen terbesar dengan menghasilkan 60% gas produksi negara itu, namun pasok hanya terpengaruh sedikit oleh revolusi yang terjadi.
Yaman baru saja menyelesaikan pembangungan satu terminal LNG baru yang merupakan kerja sama dengan perusahaan Prancis Total. Business Monitor International mengatakan infrastruktur gas di negara ini berulangkali diserang kelompok militan domestik, namun tidak akan berdampak pada pasok global.
Bahrain memiliki dua sumur minyak dan meski tidak satupun memproduksi dalam jumlah luar biasa, kekacauan di negara kerajaan ini tampaknya ikut mendorong harga minyak mentah naik.
“Masalahnya adalah para manajer keuangan yang bermain dengan pasar kertas di New York dan London melihatnya sebagai pertanda situasi buruk di Timur Tengah, sehingga muncullah asumsi minyak akan terpengaruh,” ujar pakar energi dari Chatham House, Paul Stevens.

Masa depan

“Selama beberapa dekade yang tidak pernah diketahui dalam industri minyak adalah apa yang akan terjadi jika Kerajaan Arab Saudi jatuh,” ujar Holly Pattendon, kepala analis minyak dan gas dari Business Monitor International.
Dengan produksi 10 juta barel per hari, isyarat kecil mengenai kerusuhan di Arab Saudi bisa mempengaruhi harga minyak global, situasi yang sama terjadi pada produsen besar lainnya: Iran.
Namun meski ada ketakutan itu, produksi minyak dan gas tidak terganggu. Penemuan sumber gas di Amerika Serikat membuat pasok gas global secara relatif cukup banyak- dan belum ada aksi protes di Arab Saudi.
Bahkan, menurut Dieter Helm, perubahan di Timur Tengah malah bisa membawa harga minyak turun dan membantu perusahaan-perusahaan energi.
“Pemerintah dan parlemen yang lebih demokratis mungkin lebih suka mengekspor minyak dibandingkan para diktator yang disingkirkan itu,” ujarnya.

http://syiar-islam.web.id/?p=788