Gaddafi Ancam Sabotase Minyak Jika Pemberontakan Berlanjut

Warga Libya anti-pemerintah di Kota Tobruk membawa poster bergambar Presiden Moammar Gaddafi pada 22 Februari 2011. Gaddafi menyatakan bahwa dirinya akan menyabotase aliran minyak jika protes terus berlanjut. (Foto: Reuters)TRIPOLI (Berita SuaraMedia) - Pemimpin Libya Moamar Gaddafi telah memerintahkan pasukan keamanannya untuk melakukan sabotase fasilitas minyak negara itu, menurut pemberitaan majalah Time. Dalam kolom yang dimuat di situs Time,  kolumnis intelijen Robert Baer mengatakan sabotase itu akan dimulai dengan meledakkan pipa yang mengarah ke Mediterania.
Namun dia menambahkan bahwa sumber-nya, yang dekat dengan pemerintah, juga mengatakan kepadanya dua minggu yang lalu bahwa kerusuhan di negara-negara tetangga tidak akan menyebar ke Libya - sebuah pernyataan yang ternyata salah.
"Antara lain, Gaddafi telah memerintahkan dinas keamanan untuk memulai sabotase fasilitas minyak," tulis Baer.
"Sabotase tersebut, menurut orang dalam, dimaksudkan sebagai pesan kepada suku-suku pemberontak Libya: Pilihannya adalah saya atau kekacauan."
Baer, mantan perwira CIA di Timur Tengah, berkata sumber itu mengatakan kepadanya pada hari  Senin bahwa Gaddafi memiliki loyalitas dari hanya sekitar 5.000 dari 45.000 personil tentara negara itu.
Memparafrasekan perkataan sumber itu, dia mengatakan bahwa Gaddafi juga memerintahkan pembebasan tahanan militan Islam dengan harapan mereka akan bertindak sendiri untuk menyebar kekacauan.
Sebelumnya, Gaddafi menyatakan ia tidak akan mundur dan memerintahkan pengikutnya untuk "menangkap para tikus".
Dia mengatakan turun dari takhta akan menjadi aib untuk  nenek moyangnya dan ia akan mati sebagai martir dari apa yang disebut "revolusi".
Meningkatnya kekerasan di Libya, produsen minyak terbesar ketiga Afrika, telah memaksa sejumlah perusahaan minyak untuk tutup dan mengganggu arus dari terminal ekspor negara itu.
Pasukan keamanan telah menindak keras para demonstran di seluruh negeri, dengan kerusuhan yang menyebar ke Tripoli setelah meletus di wilayah produsen minyak minggu lalu di Libya timur.
Dua perusahaan minyak telah menghentikan keluaran produksi mereka sementara kerusuhan terus membuat harga minyak melambung.
Sebuah pipa yang membawa gas alam Libya ke Italia juga ditutup dan terminal ekspor yang mengantarkan produk mentah dan minyak terganggu karena kekerasan dan kebingungan yang mencengkeram negara yang memompa hampir 2 persen dari output minyak dunia.
Harga minyak, yang melonjak kemarin, tetap stabil sementara  Arab Saudi meyakinkan konsumen bahwa anggota OPEC akan siap untuk memenuhi kekurangan pasokan, sementara seorang pejabat di Badan Energi Internasional mengatakan siap untuk merilis stok jika terjadi gangguan yang nyata.
Beberapa perusahaan minyak mengatakan bahwa mereka menutup operasi sementara mereka mengevakuasi staf mereka.
Perusahaan-perusahaan minyak AS termasuk Occidental Petroleum Corp mengatakan produksi mereka tidak terpengaruh.
Repsol Spanyol dan Eni dari Italia mengatakan mereka telah menutup produksi mereka. Sehari sebelumnya, unit BASF Wintershall mengkonfirmasi bahwa mereka mengurangi output sebanyak 100.000 barel per hari (bpd).
Perusahaan-perusahaan tersebut tidak mengkonfirmasi volume minyak yang terpengaruh tapi Repsol mengatakan pihaknya menutup ladang minyak El-Sharara, yang menurut seorang sumber dari industri itu mengatakan memompa sekitar 200.000 barel per hari - 13 persen dari output Libya yang diperkirakan mencapai 1,6 juta barel per hari.
Sejumlah perusahaan termasuk BP, Royal ShellBelanda  dan Suncor Energy Inc mengatakan mereka menarik keluar staf mereka, tetapi tidak mengkonfirmasi dampaknya pada produksi. (iw/abc) www.suaramedia.com