Bom Taliban-Pakistan Tewaskan 30 Tentara

altPakistan (SI ONLINE)- Ditengah gelombang revolusi Timur Tengah, kerusuhan terus menghantui warga Pakistan. Dua buah bom menghantam Pakistan, Kamis (10/2/2011) menewaskan sedikitnya 30 tentara dan 18 orang lainnya luka-luka. Bom bunuh diri (suicide-bomb) meledak di kawasan pusat perekrutan militer, di daerah Mardan, Barat laut Pakistan.

"Ledakan bom terjadi di dalam area militer, kami mendapat laporan bahwa beberapa tentara telah tewas dalam ledakan tersebut. Sebuah parade militer sedang berlangsung  pada saat ledakan terjadi," kata Abdullah Khan, seorang perwira polisi senior di Mardan, Kamis pagi. Ini adalah bom kedua. Sebelumnya bom juga meledak di daerah Punyab.

Kelompok Al-Qaida Taliban mengaku bertanggung jawab atas peledakan tersebut. Al-Qaida dan militer Pakistan terlibat perang dalam kurun waktu belakangan ini. Tentara Pakistan telah melakukan serangkaian serangan terhadap gerakan al Qaida Taliban-Pakistan, dalam kaitan pemberantasan terorisme. Markas-markas Taliban-Pakistan terus diburu dan dihancurkan. 

Laporan Aljazeera menyatakan, pembom berpakaian  seragam pelajar : "Ini adalah musim dingin sehingga sebagian besar anak-anak mengenakan pakaian berat, di mana dia bisa menyembunyikan bom, dan tak seorang pun akan menduga anak laki-laki mengenakan seragam sekolah untuk melakukan serangan itu."

Nampaknya, para pejuang Taliban-Pakistan telah berhasil untuk terus menekan pemerintah Pakistan, dengan pemboman bunuh diri meski serangkaian serangan militer terhadap benteng-benteng mereka masih tetap berlangsung.

Yusuf Raza Gilani, Perdana Menteri Pakistan, mengutuk serangan hari Kamis di Pusat Resimen Punjab.  "Serangan pengecut tersebut tidak dapat mempengaruhi moral badan keamanan dan tekad bangsa untuk memberantas terorisme," katanya dalam sebuah pernyataan.

Perdana Menteri Gilani  menghadapi tekanan di beberapa bidang menyangkut ketidakpuasan umum terhadap terus berkembangnya  korupsi, kemiskinan merajalela dan pemadaman listrik.

Ketegangan antara Islamabad dan Washington juga berjalan tinggi atas kasus terakhir diplomat Amerika Raymond Davis, yang menewaskan dua warga Pakistan pada akhir Januari.  “Davis adalah seorang diplomat Amerika di Pakistan  yang bertindak membela diri ketika ia ditembak dua orang di tengah jalan Lahore pada tanggal 27 Januari. Jadi, dia menikmati kekebalan diplomatik dan harus dibebaskan”, ujar seorang staff Kedutaan Amerika di Pakistan.

Namur, warga Pakistan umumnya menghendaki Davis diadili. “Kasusnya harus dibawa ke persidangan”, ujar beberapa warga Pakistan. Memulangkan Davis ke Amerika tanpa proses persidangan jelas akan memicu tensi ketegangan lebih tinggi antara Pakistan-Amerika. (msa/).