Aksi Protes di Bahrain Makin Besar, Raja akan Bebaskan Tahanan Politik

Aksi protes di Bahrain masih terus berlanjut dengan jumlah pengunjuk rasa yang makin besar. Puluhan ribu rakyat Bahrain kembali turun ke jalan, memenuhi kawasan di sekitar Bahrain Mall, pusat bisnis di Manama dan Pearl Square. Aksi protes kali ini merupakan aksi protes terbesar dan paling terorganisir sejak unjuk rasa antipemerintah meletus di negara itu pekan kemarin.
Aksi massa itu dipimpin oleh kelompok oposisi Wefaq dan Waad, didukung oleh gerakan anak muda Bahrain yang ikut menggerakan aksi protes lewat jejaring sosial.
Tidak seperti di Libya, penguasa Bahrain nampaknya menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan terhadap para demonstran, setelah peristiwa penyerbuan pasukan militer Bahrain ke tenda-tenda pengunjuk rasa dua minggu yang lalu, menuai kecaman dunia internasional. Meski demikian, terlihat sejumlah helikopter memantau jalannya aksi rakyat yang memenuhi jalan-jalan utama di kota Manama, ibukota Bahrain.
Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan yang menginginkan perubahan penguasa di Bahrain. "Kami ingin pemerintahan yang sekarang turun. Kami mau pemerintahan yang baru. Rakyat yang harus mengatur negeri ini," kata seorang pengunjuk rasa.
Seorang janda dari tujuh pengunjuk rasa yang tewas dalam penyerbuan militer Bahrain beberapa hari yang lalu, membacakan tuntutan kelompok oposisi berupa pengunduran diri pemerintah dan penggantian penguasa Bahrain yang saat ini dipegang oleh dinasti Al-Khalifa dan keluarganya, serta menuntut penyelidikan independen untuk mengadili para pelaku dan dalang dari penyerbuan pasukan militer terhadap para demonstran.
Kelompok oposisi juga menuntut pembentukan pemerintahan "keselamatan nasional". Para pengunjuk rasa yang didominasi Muslim Syiah menyatakan, soal siapa yang akan menjadi pemimpin baru bukan masalah, asalkan pemimpin baru itu bersikap adil.
"Kami tidak mempermasalahkan jika pemilu menghasilkan seorang Sunni atau Syiah yang akan jadi penguasa. Yang paling penting adalah, dia harus adil dalam mendistribusikan kekayaan negara antara kedua komunitas yang ada di Bahrain," kata Said, salah seorang pengunjuk rasa.
Di Bahrain, 70 persen penduduknya adalah Muslim Syiah, tapi mereka menjadi minoritas di 40 kursi parlemen. Dinasti Al-Khalifa--beraliran Sunni--yang sekarang berkuasa, sudah 200 tahun menduduki singgasana kerajaan Bahrain. Keluarga ini mendominasi kabinet pemerintah Bahrain, yang dipimpin oleh seorang perdana menteri dan yang menjadi perdana menteri Bahrain sekarang--menjabat sejak tahun 1971-- adalah paman dari Raja Bahrain.
Gerakan rakyat di Bahrain mendorong sejumlah tokoh oposisi yang diasingkan pemerintah ke luar negeri, berniat kembali ke Bahrain. Salah satunya adalah Hassan Mushaimaa, pemimpin Gerakan Haq. Dari tempatnya tinggal di London, Mushaimaa menyatakan akan segera pulang ke Bahrain.
Mushaimaan adalah satu dari 25 orang yang diadili pemerintah Bahrain tahun 2010 atas tuduhan kudeta. Namun hari Senin kemarin, Raja Hamad bin Isa Al-Khalifa menyatakan bahwa pengadilan kasus tersebut tidak akan dilanjutkan, sehingga memungkinkan Mushaimaa kembali ke tanah airnya tanpa hambatan.
Berbeda dengan Mushaimaa, tokoh oposisi Bahrain lainnya dilaporkan tidak bisa pulang ke Bahrain, dan tertahan di Beirut, tempat pesawatnya transit.
Melihat aksi massa yang semakin besar, Raja Bahrain kabarnya akan membebaskan para tahanan politik. Media pemerintah menyebutkan, nama-nama tahanan politik yang akan dibebaskan akan diumumkan rencananya diumumkan pada hari ini, Rabu (23/2).
Menurut tokoh oposisi kelompok Syiah di Bahrain, Abdul Jalil Khalil, sejak tahun 2010, kerajaan Bahrain membebaskan 50 tahanan politik, 25 diantaranya aktivis dari kelompok Syiah yang diadili atas tuduhan merencanakan perlawanan terhadap pemerintah. (ln/aljz)