Pengangguran Meluas, Pertumbuhan Tak Berkualitas

Headline

INILAH.COM, Jakarta - Pengangguran termasuk di tingkat sarjana makin meluas. Hal ini akibat pertumbuhan yang tidak berkualitas. Ketidakpastian ekonomi dan kemerosotan kesejahteraan ini bisa mengancam pemerintahan.
Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Stefanus Gusma dan mantan Aktivis ITB 1977/78 Ir S Indro Cahyono melihat kinerja Presiden SBY dan Wapres Boediono kian terpuruk. Rakyat masih diliputi kekhawatiran karena ketidakpastian ekonomi dan kemerosotan kesejahteraan yang meluas belakangan ini.
Karena itu, para aktivis banyak tersentuh nurani untuk mengingatkan elite negara. ''Jika kesabaran rakyat habis, akibat kegagalan membasmi korupsi dan menegakkan kesejahteraan, maka gerakan ekstraparlementer meletus,'' kata Stefanus Gusma.
Pernyataan Stefanus ini terkait ada lebih dari 2 juta orang menganggur di Indonesia seperti data Badan Pusat Statistik (BPS). Mayoritas angkatan kerja berpendidikan sarjana menganggur. Lowongan kerja yang tersedia umumnya untuk pendidikan rendah, bukan sarjana.
Prof Dorodjatun Kuntjorojakti dari FEUI dan mantan Menko Perekonomian melihat pertumbuhan ekonomi makin tak berkualitas sehingga gagal menyerap angkatan kerja sarjana. “Memang pertumbuhan ekonomi tidak berkualitas dan gagal menyerap lapangan kerja untuk para sarjana yang kian meningkat jumlahnya,” ujarnya dalam sebuah diskusi.
Karena itu, menurut Indro Cahyono, warga kini menuntut kinerja pemerintah yang jauh lebih baik. Yakni melakukan berbagai pembenahan dari sisi ekonomi hingga kasus hukum. Seperti penanganan kasus megaskandal Bank Century dan penggelapan pajak terkait kasus Gayus H Tambunan.
“Isu Century dan mafia pajak jelas tak mungkin diselesaikan Boediono, sebab tak ada aparat yang segan dan hormat serta patuh pada Boediono yang juga diduga terkait skandal Century,” imbuh Indro Cahyono.
Stefanus kembali memaparkan, Orde SBY adalah Orde Pencitraan yang ditunjang subsidi negara. Sementara orde baru adalah orde otoriter yang menggunakan kekerasan. “Orde Citra bisa bernasib sama seperti Orde Baru karena rakyat kecewa dengan tiadanya kesejahteraan dan keadilan sosial,” tegasnya. [mdr]