Kematian Pasukan NATO Meroket, Petraeus Klaim Raih "Perkembangan"

KABUL (Berita SuaraMedia) – Jenderal David Petraeus, komandan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) mengumumkan bahwa misi di Afghanistan mencatatkan "perkembangan mengesankan" di tahun 2010. ISAF dan pasukan Afghanistan bekerja sama di tahun 2010 untuk menghentikan keamanan yang mengalami penurunan di negara tersebut guna melanjutkan misi untuk mengenyagkan kelompok-kelompok seperti al-Qaeda.
Menurut Jenderal Petraeus, strategi yang diterapkan pada tahun 2010 membantu mengembangkan keamanan di negara tersebut dan juga mendukung cara pengelolaan pemerintahan yang baik dan perkembangan ekonomi.
Tambahan pasukan ISAF dikirimkan ke kawasan tersebut untuk mendukung pasukan Afghanistan yang bertempur melawan para gerilyawan di kawasan tersebut. Petraeus menambahkan bahwa perkembangan telah dicapai di tiga Kabul, Helmand, dan Kandahar.
Komandan ISAF tersebut mengatakan bahwa serangan yang terjadi hanya kadang-kadang. Akan tetapi, jumlah korban jiwa di kubu pasukan koalisi di Afghanistan mengalami peningkatan tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2010, total ada sebanyak 709 orang prajurit koalisi yang terbunuh. Hal itu menjadikan tahun 2010 sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan internasional sejak perang dimulai setelah peristiwa 11 September 2001.
Sebaliknya, Petraeus mengatakan bahwa di tahun 2010, terdapat "pencapaian-pencapaian signifikan," namun ia mengakui bahwa dalam misi tersebut terdapat kehilangan nyawa dan kemunduran secara periodik.
"Meski ada pencapaian di tahun 2010, (kami) masih harus bekerja keras di tahun 2011," tambah Petraeus.
"Seperti telah diperjelas Presiden (Hamid) Karzai, lingkup keamanan Kabul harus diperlias ke provinsi-provinsi sebelah, dan pergerakan pemberontak di kawasan utara dan timur laut yang bergunung-gunung harus dihentikan dan dibalikkan," tambahnya.
Tahun ini, sejauh ini sudah 18 orang personel pasukan koalisi yang kehilangan nyawa di Afghanistan, demikian menurut hitung-hitungan BNO News berdasarkan informasi resmi yang didapat. Sebagian besar prajurit itu tewas di selatan Afghanistan.
Dalam Konferensi Lisbon yang dilangsungkan sebelumnya, para pemimpin AS berjanji memberikan dukungan terhadap tujuan Presiden Karzai yang ingin pasukan Afghanistan mengambil alih kendali keamanan di negara itu pada 2014.
Petraeus mengatakan bahwa keputusan semacam itu diambil karena kemajuan yang didapat misi ISAF-NATO.
"Rakyat Afghanistan terus menginginkan kedaulatan yang lebih besar di negara mereka. Awal pengalihan tugas-tugas pengamanan tahun ini di sejumlah area akan memfasilitasi peningkatan praktik kedaulatan oleh pemerintah Afghanistan," tandasnya.
Namun, optimisme Petraeus tersebut tidak sama dengan warga Afghanistan atau bahkan para diplomat NATO dan para petinggi militer AS.
Data statistik yang dikumpulkan NATO dan sejumlah organisasi lain menunjukkan bahwa kekerasan meningkat mencapai level tertinggi tahun lalu, dan para petinggi militer AS memprediksikan bahwa tahun 2011 akan jauh lebih buruk. Bagi koalisi, pemerintahan Afghanistan tetap amat tidak efektif dan Pakistan tetap menjadi tempat perlindungan para pemimpin Taliban. Sebagian besar warga Afghanistan merasa frustrasi dengan kehadiran pasukan asing.
"Saya bisa katakan ini dengan amat jelas, 50 persen orang yang bekerja dengan pemerintah Afghanistan sesungguhnya hatinya bersama Taliban," kata Munshi Abdul Majid, gubernur Baghlan, sebuah provinsi di utara Afghanistan yang kondisi keamanannya memburuk tahun lalu. "50 persen orang ini merasa bahwa orang-orang asing tidak pantas dipercaya dan hanya mencoba membodohi mereka." (dn/nk/wp) www.suaramedia.com