ISLAMABAD (Berita SuaraMedia) - Terguncang berat oleh banjir bandang dan pengeluaran besar untuk operasi militer, perekonomian buruk Pakistan membatalkan tekanan AS pada Islamabad untuk membuka front baru melawan Taliban di sabuk kesukuan negara tersebut. "Segala operasi di daerah kesukuan tidak disarankan untuk saat ini karena buruknya perekonomian negara tidak mungkin bisa membiayai upaya lain," ujar Muzzamil Aslam, ekonom senior berbasis di Karachi.
Pemerintahan Obama telah menekan pemerintah Pakistan untuk meluncurkan serangan militer ke Waziristan Utara terhadap jaringan Haqqani, sebuah kelompok militan berpengaruh yang terkenal akan serangan mematikan terhadap pasukan asing pimpinan AS di Afghanistan.
Minggu lalu, wakil presiden AS Joe Biden berkunjung ke Islamabad untuk berbicara dengan para pemimpin Pakistan agar meluncurkan serangan militer di wilayah yang bermasalah itu, tapi tidak berhasil.
"Juga terdapat hambatan keamanan," ujar Aslam.
"Tapi hambatan terbesar dalam meluncurkan operasi adalah lemahnya perekonomian, yang tidak bisa menyerap guncangan besar lainnya," ujarnya, menyebutkan banjir bandang baru-baru ini di bulan Agustus.
"Kehancuran skala besar yang disebabkan oleh banjir bandang ternyata menjadi kesulitan terakhir vis-Ã -vis ekonomi, yang sudah terseok-seok akibat meningkatnya pengeluaran pertahanan," ujarnya.
Militer Pakistan terlibat dalam operasi militer melawan Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP), sebuah payung dari berbagai kelompok Taliban di sabuk kesukuan di sepanjang perbatasan Afghanistan.
"Pemerintah dan militer Pakistan tahu betul fakta bahwa operasi di Waziristan utara bisa berubah menjadi gangguan total sejauh menyangkut kepentingan ekonomi dan keamanan kami," ujar Aslam.
"Amerika akan mengucurkan sejumlah dana pada akhir tahun, tapi jika front baru dibuka, itu akan membalikkan semua perkiraan, dan akhirnya Pakistan sendiri harus menanggung beban tersebut."
Para ekonom percaya bahwa serangan militer baru akan merugikan perekonomian Pakistan yang sudah rapuh.
"Segala operasi baru akan sangat merugikan kita lebih dari yang kita perkirakan," ujar Dr Shahid Hassan Siddiqui.
"Itu akan menjadi bencana politik dan ekonomi besar."
Menurut menteri keuangan, Pakistan sejauh ini telah kehilangan 34 milyar dolar untuk operasi militer.
Sementara itu, Washington menjanjikan bantuan sebesar tujuh milyar dolar lebih untuk Islamabad dalam empat tahun ke depan. (rin/oi) www.suaramedia.com

Post a Comment