Turis Taliban Eropa, Ancaman Baru Pasukan NATO


KABUL (Berita SuaraMedia) – Sejumlah sumber Afghanistan dan NATO mengklaim bahwa para turis Taliban asal Eropa yang menghabiskan hari libur untuk berperang amat jarang di Afghanistan. Menurut seorang pejabat senior direktorat keamanan nasional, lembaga Afghanistan yang setara dengan MI5, para pejuang asing umumnya beretnis Arab, Chechen, Pakistan, atau asal negara-negara pecahan Uni Soviet di Asia Tengah, seperti Tajikistan dan Uzbekistan. Tapi, terkadang ada rumor warga negara Inggris dan Eropa lain yang pergi ke medan perang Afghanistan untuk memerangi pasukan NATO.
Umumnya, karakter orang-orang semacam itu tidak banyak diketahui.
"Baru-baru ini, kami mendengar mengenai seorang Taliban Jerman di Chardara," kata Safraz, seorang jurnalis yang bekerja di Provinsi Kunduz, sebelah utara Afghanistan. Tapi, terpisah dari kewarganegaraan pria itu, tidak ada informasi lain mengenainya.
Jonathan Evans, direktur jenderal dinas keamanan Inggris MI5 sebelumnya memperingatkan bahwa ada sejumlah Muslim Inggris yang pergi ke Afghanistan dan Pakistan setiap tahunnya untuk berlatih dengan para militan.
MI5 menggunakan pengintaian udara untuk mencari warga Inggris yang bertempur bersama Taliban di Afghanistan.
Perburuan itu diperintahkan karena dikhawatirkan bahwa para prajurit tersebut kembali ke Inggris untuk merancang serangan di negara itu.
Pesawat-pesawat dengan perlengkapan penyadap terbang di atas kota-kota di Inggris guna mencari prajurit Afghanistan yang kembali ke Inggris.
Tahun lalu, dilaporkan bahwa pesawat mata-mata Angkatan Udara Inggris di Helmand, sebelah selatan Afghanistan, mendeteksi adanya aksen kental Yorkshire dan Birmingham dari para prajurit yang berkomunikasi melalui radio dan telepon.
Mereka tampaknya berbicara bahasa utama Afghanistan, Dari dan Pashto, tapi kemudian menggunakan bahasa Inggris ketika mereka lupa kata-kata yang tepat.
Ancaman tersebut diyakini cukup serius sehingga pesawat-pesawat mata-mata diberi tugas berpatroli di langit Inggris demi dapat menemukan suara yang sama saat mereka kembali ke Inggris.
Jasad seorang militan yang memiliki tato klub sepak bola Aston Villa juga ditemukan di selatan Afghanistan.
Tapi, juru bicara militer Inggris untuk pasukan di Helmand mengatakan bahwa baru-baru ini belum ada laporan mengenai anggota Taliban asal Inggris di provinsi itu dab mayoritas prajurit asing yang ada adalah orang Pakistan.
Para prajurit asal Afghanistan yang tinggal di Inggris menghabiskan waktu berbulan-bulan di Afghanistan untuk memerangi prajurit NATO sebelum kembali ke Inggris. Mereka juga mengirimkan uang kepada Taliban.
Seorang prajurit Taliban di Dhani-Ghorri di sebelah utara Afghanistan bulan lalu mengatakan kepada kantor berita Guardian bahwa sebagian besarnya ia menetap di London timur, tapi tiga bulan dalam setahun ia datang ke Afghanistan untuk berperang.
"Saya bekerja sebagai pengemudi taksi," kata pria yang menyandang pangkat komandan level menengah Taliban. "Anda tahu, saya mendapat penghasilan yang baik di sana (Inggris). Tapi, orang-orang ini adalah teman dan keluarga saya, dan sudah tugas saya untuk datang berperang bersama mereka."
"Ada banyak orang seperti saya di London," tambahnya. "Kami mengumpulkan uang untuk perlawanan sepanjang tahun dan datang untuk berperang jika kami mampu."
Kakak laki-lakinya, seorang ulama senior atau mawlawi yang juga bertempur di Dhani-Ghorri juga merupakan warga London.
"Di penjara utama AS di dekat pangkalan udara Bagram, hanya ada 50 orang warga negara ketiga yang ditahan," kata seorang juru bicara wanita.
"Sebagian besar di antaranya adalah orang Pakistan, sementara sebagian kecil lainnya berasal dari negara-negara lain di kawasan itu," tambahnya. (dn/gd/dm) www.suaramedia.com