Pertama Kalinya, Tank AS Terjuni Perburuan Taliban

KABUL (Berita SuaraMedia) – Untuk pertama kalinya dalam perang yang sudah berlangsung hingga sembilan tahun di Afghanistan, militer AS mengirimkan tank-tank tempur berpelindung tebal ke negara tersebut. Tindakan itu menandakan akan ditingkatkannya taktik agresif yang diterapkan pasukan AS untuk menyerang Taliban.
Pengerahan tank-tank M1 Abrams kepada pasukan Marinir AS di kawasan barat daya negara tersebut akan memungkinkan pasukan darat menyerang Taliban dari jarak yang lebih jauh dan dampak yang lebih mematikan jika dibandingkan dengan kendaraan militer AS lainnya.
Sebuah tembakan tank lebih akurat dibandingkan dengan tembakan artileri, dan bisa ditembakkan jauh lebih cepat dibanding harus menunggu jet tempur atau helikopter menembakkan peluru kendali atau menjatuhkan bom yang dipandu satelit.
"Tank mampu memberikan tembakan perlindungan dan mobilitas langsung untuk menghadapi tantangan yang berada di luar jangkauan tembakan senjata mesin yang dinaikkan di atas truk tahan ranjau yang dipergunakan sebagian besar pasukan AS di Afghanistan," kata David Johnson, seorang peneliti senior di Rand Corp.
Tank-tank yang per unitnya memiliki berat 68 ton tersebut dilengkapi mesin jet dan memiliki senjata 120 milimeter yang dapat menghancurkan sebuah rumah dari jarak satu mil jauhnya.
Meski secara keseluruhan menerapkan strategi yang menekankan penggunaan pasukan untuk melindungi warga sipil, data statistik yang dirilis komando militer NATO di Kabul dan hasil wawancara dengan sejumlah komandan senior mengindikasikan bahwa operasi pasukan AS dalam dua bulan terakhir semakin intens dan lebih keras dibanding upaya tahun 2001 untuk menggulingkan pemerintahan Taliban.
Laju operasi khusus untuk menangkap atau membunuh para pemimpin Taliban ditingkatkan hingga lebih dari tiga kali lipat dalam tiga bulan belakangan.
Pesawat AS dan NATO melepaskan lebih banyak bom dan peluru kendali pada bulan Oktober, total mencapai 1.000 buah, dibandingkan bulan mana pun pada tahun 2001.
Di distrik-distrik sekeliling Kota Kandahar, para prajurit dari Divisi 101 Airborne menghancurkan puluhan rumah yang diduga berisi jebakan, dan mereka menggunakan banyak peledak berkekuatan tinggi, sebuah senjata yang sebelumnya jarang dipergunakan, untuk meledakkan ladang-ladang ranjau.
Sebagian metode yang lebih keras, khususnya serbuan yang dilakukan malam hari, membuat marah Presiden Afghanistan Hamid Karzai, yang pekan lalu mengatakan bahwa operasi-operasi tersebut mengacaukan dukungan untuk perang yang dipimpin AS.
Tapi, sejumlah perwira militer senior AS yang terlibat dalam perang tersebut beranggapan bahwa serbuan-serbuan tersebut dan juga tindakan agresif lainnya, mampu mengejutkan para gerilyawan.
Mereka mengataka, kombinasi serbuan malam, serangan udara, dan penggunaan bahan peledak di tanah berperan penting dalam meningkatkan keamanan di kawasan-kawasan sekitar Kandahar, markas Taliban yang dijadikan fokus operasi pasukan koalisi musim gugur ini.
Hal itu agaknya membuat Jenderal David Petraeus, komandan tertinggi pasukan koalisi, dalam posisi yang lebih kuat menjelang pertemuan kepala negara NATO di Lisbon yang menjadikan masalah Afghanistan sebagai topik diskusi utama.
Hal itu juga akan membantu sang jenderal membuktikan bahwa strategi militer berhasil dilakukan saat Presiden Barack Obama dan para penasihatnya melakukan tunjauan perang bulan depan.
Menurut Washington Post, permintaan tank tersebut sebelumnya ditolak Jenderal David D. McKiernan. Sebagian karena kekhawatiran bahwa tank-tank tersebut bisa mengingatkan warga Afghanistan terhadap penjajahan Uni Soviet pada tahun 1980-an yang banyak menggunakan tank.
Jenderal David Petraeus menyetujui permintaan tank tersebut dari Marinir bulan lalu. (dn/mcn/ms) www.suaramedia.com