SEOUL (Berita SuaraMedia) – Umat Muslim kemungkinan dapat mendirikan sebuah minoritas kecil di Korea Selatan, namun daya tarik Islam sedang menyebar pesat di antara masyarakat Korea. Dari masa-masa kolonial Jepang, Itaewon, sebuah distrik kosmopolitan di selatan-pusat Seoul, telah menjadi sebuah daerah penduduk yang besar untuk orang-orang dari luar negeri. Dulunya menjadi rumah bagi barak-barak Jepang dan setelah tahun 1945, sebuah kamp besar di distrik tersebut menjadi hak milik Angkatan Darat AS. Tetangganya telah berkembang sebagai sebuah magnet bagi segala macam aktivitas kependudukan asing di Seoul.
"Itaewon didominasi oleh sebuah bangunan yang tidak diragukan lagi adalah sebuah Masjid. Bangunan yang mengesankan tersebut adalah sebuah pengingat dari kebangkitan komunitas Muslim di sini," kata seorang imam lokal.
Islam telah hadir di negara ini untuk waktu yang sangat lama. Pada abad ke-8 dan abad ke-9, para pelaut dan pedagang Arab sering mengunjungi perairan pantai Selatan dan Timur Asia dan banyak dari mereka membuatnya sebagai rumah mereka.
Kebangkitan Islam terjadi selama Perang Korea (1950-1953). Perang tersebut sebagian besar diperjuangkan oleh pasukan AS, namun dengan dukungan dari negara lain, di antaranya adalah Turki, yang pada saat itu adalah sebuah sekutu dekat AS. Para pasukan Turki memeprkenalkan Islam kepada Korea.
Mereka membuktikan tidak hanya menjadi para pejuang yang handal namun juga para pekerja dakwah yang sukses. " Tenda Masjid " mereka yang pada awalnya menyediakan tempat untuk para pasukan sendiri, pada akhirnya menjadi pusat utama dari aktivitas dakwah mereka.
Ketika perang berakhir dan satuan unit Turki tersebut kembali ke kampung halaman, mereka meninggalkan sebuah komunitas Muslim lokal yang kecil namun aktif. Masyarakat Muslim Korea secara resmi dibuka pada tahun 1955. Badan tersebut, kemudian dinamai ulang dengan nama Yayasan Islam Korea, menjadi organisasi besar di sini.
Pada tahun 1970-an, Masjid permanen pertama didirikan di Itaewon, dibangun dengan sebuah hadiah dari Arab Saudi dan dibuka pada tahun 1976. Pada saat itu, Masjid tersebut adalah salah satu dari bangunan yang luar biasa di seluruh kota tersebut, dan masih mengesankan sampai sekarang.
Menunjukkan pada Masjid tersebut dari kantornya, Duta Besar Arab Saudi, Ahmad Y. Al-Barrak yang baru-baru ini memikul tanggung jawab di Seoul setelah bertugas di Jenewa selama tujuh hari. "Korea adalah sebuah negara yang menyenangkan dengan udara yang menyenangkan dan orang-orang yang baik," Al-Barrak mengatakan kepada kantor berita Arab News dalam sebuah wawancara baru-baru ini di ibu kota Korea Selatan.
Negara tersebut memiliki Sembilan Masjid untuk umat Muslim yang diperkirakan berjumlah antara 120.000 dan 150.000 jiwa. Sekitar 400 dari mereka sedang menuju ke Jeddah untuk melaksanakan Haji tahunan, ia mengatakan.
Hubungan bilateral kuat, dengan perusahaan-perusahaan aktif Korea di seluruh Arab Saudi, terutama dalam pembangunan dan pengembangan proyek khususnya di Jubail dan Yanbi. Perusahaan-perusahaan Arab Saudi termasuk Saudi Basic Industries Corporation dan Saudi Aramco, juga memiliki sebuah kehadiran yang kuat di seluruh Korea, kata Al-Barrak yang karir diplomatiknya berjangkauan 30 tahun.
"Ekonomi kerajaan yang kuat dan proyek pengembangan yang sedang berlangsung, terutama di Kota Ekonomi Raja Abdullah dan kota-kota baru lainnya telah memberikan begitu banyak keuntungan di antara pengusaha Korea," ia mengatakan, menambahkan bahwa dalam jangka waktu hanya enam pekan, 189 visa dikeluarkan untuk mereka mengunjungi Kerajaan.
Al-Barrak mengatakan bahwa sekitar 100 mahasiswa Arab Saudi sedang belajar di universitas yang berbeda di Korea mengejar pendidikan teknik dan keinsinyuran, beberapa dari mereka berada di bawah Program Beasiswa Raja Abdullah. Sepuluh di antara mereka mengejar pendidikan kedokteran.
Sebuah misi kebudayaan baru-baru ini dibuka di kedutaan dengan Turki Fahad Alayyar sebagai utusan kebudayaan. Tugasnya termasuk memfasilitasi kebudayaan, program pertukaran pelajar dan siswa antara kedua negara, pastinya di samping memajukan kebudayaan dan tradisi Arab. Sekitar 200 siswa belajar bahasa Arab di lima universitas Korea.
"Sebuah jumlah yang meningkat dari warga Korea yang belajar bahasa," Alayyar mengatakan, menambahkan bahwa para siswa Arab Saudi di Korea belajar untuk studi sarjana dan Bahasa Inggris untuk studi pasca sarjana, termasuk master dan Ph.D. Kerajaan adalah satu-satunya negara Islam dan Arab yang berpartisipasi dalam Pameran Buku Nasional Seoul setiap tahunnya, ia menambahkan: "Kami memamerkan kekayaan budaya Kerajaan dan warisan budaya dengan sebuah fokus pada makanan halal dan perbankan Islam." (ppt/an) www.suaramedia.com

Post a Comment