AS: Eropa Menindas Hak-Hak Kaum Muslim

Laporan tersebut mengatakan bahwa pelarangan Swiss terhadap menara-menara Masjid sebagai salah satu contoh pembatasan hak-hak Muslim. Baru-baru ini AS membacakan sebuah laporan tentang kebebasan beragama di seluruh dunia yang memperingatkan bahwa minoritas Muslim Eropa sedang menderita tindakan-tindakan keras yang membatasi hak keagamaan mereka. (Foto: OnIslam) WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Minoritas Muslim di Eropa menderita tindakan-tindakan kasar yang menindas hak-hak beragamanya, sebuah laporan AS yang mencolok tentang kebebasan beragama di seluruh dunia telah memperingatkan. "Beberapa negara Eropa telah menempatkan  pembatasan-pembatasan keras tentang ekspresi keagamaan," Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dalam sebuah konferensi pers di Washington pada Rabu (17/11) waktu setempat, Reuters mengabarkan.
Clinton mengungkapkan Laporan Kebebasan Beragama Internasional selama satu tahun terakhir, yang mengkritisi kebijakan-kebijakan dan sikap-sikap terhadap Muslim dan Islam di seluruh Eropa.
Laporan tersebut menyoroti kasus-kasus di banyak negara di mana para pemilih dan para legislator telah meloloskan undang-undang yang melarang masalah yang berhubungan dengan pakaian Muslim atau hak-hak beragama.
Di Perancis, pemerintah telah menyetujui sebuah pelarangan pada kerudung wajah Muslim,atau niqab, di tempat umum, dan gerakan tersebut menggema di negara lain, termasuk Italia, Inggris, Belgia, dan Spanyol; yang pemerintahnya mempertimbangkan undang-undang yang sama.
Swiss telah melarang menara-menara Masjid, di mana Muslim menyerukan panggilan sholat setiap hari, dan Swedia dan Italia mempertimbangkan untuk mengikuti larangan tersebut.
Michael Posner, pejabat tingkat atas Departemen Luar Negeri  untuk demokrasi dan hak asasi manusia, mencatatkan bahwsa tren tersebut tidak hanya mengenai kebijakan pemerintah, namun lebih pada sebuah kebencian publik yang berkembang terhadap Islam dan Muslim di banyak negara Eropa.
"Ambil saja contoh pemilihan menara Masjid di Swiss. Pemerintah tidak mendukung inisiatif tersebut. Inisiatif tersebut adalah sebuah inisiatif publik," ia mengatakan. "Saya pikir 59 persen dari populasi di sana memilih untuk melarang menara Masjid."
Di Jerman, sebuah survei dewasa ini menemukan bahwa 58 persen warga Jerman percaya bahwa praktik Islam harus "secara luas dilarang".
AS memperingatkan bahwa "kekerasan yang gigih tersebut disebabkan oleh ketidaktoleranan dan ketidapercayaan" terhadap Muslim dapat jadi sama merusaknya dengan kelompok ekstrimis, dan mendesak pemerintah Eropa untuk bertindak melindungi hak-hak minoritas Muslim.
"Yang kami desakkan terhadap teman-teman Eropa tentang apa yang harus dilakukan adalah mengambil setiap tindakan untuk mengurangi ketegangan tersebut," kata Posner.
Ia menegaskan bahwa posisi AS dari semacam bentuk ketidaktoleranan tersebut adalah jelas.
"Kami telah datang ke pengadilan di AS untuk menegakkan hak wanita dan gadis Muslim mengenakan sebuah burqa di jalan-jalan, di sekolah-sekolah dan sebagainya.
"Itulah posisi kami. Ini adalah sebuah posisi yang kami ucapkan dengan jelas ketika kami berbicara kepada teman-teman Eropa kami."
Laporan tersebut, di satu sisi, mengatakan bahwa ada alasan-alasan untuk harapan hubungan keagamaan yang lebih baik di dunia selama beberapa tahun terakhir.
"AS memerintahkan inisiatif pemerintah dan aktor masyarakat sipil untuk membantu perkembangan dialog antar agama dan kerja sama," kata laporan tersebut, disusun dari sumber-sumber termasuk jurnalis, akademisi, organisasi non-kepemerintahan, dan kelompok HAM dan keagamaan.
Laporan tersebut mengatakan bahwa inisiatif internasional antar agama berkembang di banyak bagian di dunia, dengan kawasan Timur Tengah khususnya melihat sebuah ketertarikan yang berkembang di dalam dialog dan hubungan antar agama.
Laporan tersebut menyoroti inisiatif kunci yang terjadi selama setahun terakhir.
"Pemerintah Indonesia mengadakan Dialog Antar Agama Indonesia-AS yang pertama, membawa bersama para pemimpin agama, cendikiawan, siswa dan para aktivis dari kedua negara dan kawasan tersebut," laporan tersebut mengatakan.
"Ada juga sebuah dialog antar agama yang terorganisir antara komunitas Muslim, Kristen, Budha, dan Yahudi, yang mengalamatkan dan mengeluarkan pernyataan tentang berbagai tema nasional dan internasional.
"Muslim ikut serta dalam dialog dengan the Holy See yang mengusahakan rasa hormat yang lebih besar untuk Islam, terutama di Barat, dan berharap untuk menekankan bahwa Islam adalah sebuah agama perdamaian dan memisahkannya dari kekerasan."
Posner mencatatkan bahwa hubungan antar agama dapat membangun jembatan pemahaman antara komunitas yang beranekaragam di mana ketegangan baru-baru ini muncul.
"Upaya semacam itu, pada tingkatan elit maupun mendasar, dapat menuntun pada peningkatan dalam kebebasan beragama dan kelonggaran dari sebuh konflik yang berdasar keagamaan." (ppt/oi) www.suaramedia.com