Aceh, Lama Diincar





Keteguhan rakyat Aceh memegang Islam menjadi pemicu kaum misionaris menyebarkan misinya.
Tsunami di Aceh 26 Desember 2004 ibarat kran pembuka bagi dunia Barat yang Kristen untuk menyelusup ke Serambi Mekah. Ini gara-gara pemerintah tak berdaya menanganinya. Tanpa dikomando mereka berduyun-duyun masuk ke provinsi paling barat Indonesia ini.
Tak ada filter apapun dari pemerintah. Semua lembaga internasional boleh masuk. Tidak hanya itu, militer asing pun dengan leluasa menyusuri pelosok-pelosok daerah Aceh yang dikenal kaya akan sumber daya alam.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik lokal maupun internasional bertebaran bak jamur di musim hujan. Jumlahnya ratusan. Ada yang memang LSM kemanusiaan, tapi ada juga LSM yang merangkap sebagai misionaris. Supaya bisa diterima, mereka pun rela menggandeng relawan lokal yang mau dibayar. Para aktivis pun rela mengenakan kerudung sekadarnya agar bisa diterima oleh masyarakat Aceh.
Beberapa LSM ada yang mengubah nama sebenarnya agar tidak dicurigai masyarakat dan menyembunyikan misi yang sebenarnya. Bagaimana pun masyarakat Aceh masih lumayan tabu menghadapi orang-orang Kristen yang jelas jatidirinya.
Hanya beberapa hari pasca tsunami mereka sudah masuk ke Aceh. Dengan kekuatan keuangan yang besar mereka berusaha menjadi yang pertama dalam 'berbagi kasih' kepada para korban tsunami. Di balik misi bantuan itulah, misi Kristenisasi mendompleng.
Laporan dari berbagai wilayah musibah menyebut, misi-misi itu memang ada. Ada yang terbuka dan ada yang tersamar. Ada yang menyebarkan buku-buku Kristen hingga mengajari anak-anak dengan permainan dan lagu-lagu berbau gereja. Sempat pula tersiar kabar, beberapa anak Aceh mereka ambil untuk dididik sebagai misionaris baru. Hasilnya, mereka ada yang terjun membawa misi ketika ada gempa bumi di Tasikmalaya.
LSM-LSM ini tidak keluar dari Aceh meskipun masa rekonstruksi dan rehabilitasi sudah selesai. Mereka bertahan dengan membawa program pemberdayaan masyarakat dan lainnya. Tak mengherankan bila jejak-jejak misi Kristenisasi itu masih bisa dijumpai kendati tsunami telah berlalu lebih dari lima tahun lamanya.
Mengapa Aceh begitu penting? Sebagai Serambi Mekah, Aceh dianggap masih terkuat ikatannya dengan Islam. Dalam perjalanan sejarah kolonial, hanya Acehlah yang terbebas dari kolonialisme. Pasukan Kerajaan Kristen Portugis tak berhasil menaklukkan Aceh. Armada laut Aceh justru memukul mundur armada salib tersebut dan membunuh sejumlah petinggi militernya. Nanggroe Aceh Darussalam merupakan benteng Islam terkuat di seluruh Nusantara.
Kerajaan Kristen Belanda pun tak berhasil menaklukkan Aceh meskipun telah menyusupkan seorang Snouck Hurgronje untuk melepaskan keterikatan masyarakat dengan para ulama (Tengku). Perlawanan rakyat yang gagah berani berhasil mengusir para penjajah kafir tersebut.
Tak heran dalam peta dunia penyebaran misi salib, wilayah Aceh diberi tanda hitam yang sangat pekat. Ini menandakan wilayah tersebut merupakan daerah yang amat sangat sulit dijangkau Injil. Namun demikian, misi penyebaran salib untuk Aceh dari waktu ke waktu terus diupayakan. Mereka terus menunggu sasarannya hingga kondisi memungkinkan mereka bergerak dengan leluasa.
Berdasarkan data dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi NAD, misi Kristenisasi terus berlangsung setelah kemerdekaan. Pada awal 1962 ada kasus Singkil dan Pulau Banyak. Saat itu tanah-tanah kosong dekat perkampungan kaum Muslimin dibangun gereja-gereja kecil sebagai siasat untuk menguasai tanah. Namun pada akhirnya masyarakat marah dan menghancurkan semua geraja-gereja kecil itu, sebelum sempat diselesaikan oleh Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo waktu itu (Tgk H. Muhammad Dawud Beureueh), yang berencana berkunjung ke daerah tersebut.
Di tahun 1967 terjadi kehebohan di kota Bakti Pidie karena diadakan upacara gereja besar-besaran di SMP Kota Bakti yang dihadiri oleh umat Kristen seluruh Aceh, sementara pendu-duk tetap di Kota Bakti 100 persen. Warga marah. Namun bisa diredam Tim Dakwah Mahasiswa IAIN Ar-Raniry.
Di era Orde Baru, tepatnya tahun 1976, Missionaris Sima-mora secara meyakinkan menjelaskan bahwa umat Kristen akan mengembangkan misinya di Aceh melalui tiga penjuru; Singkil, Aceh Tenggara dan Sabang. Mereka mencetak 100 ribu Injil dalam bahasa Aceh.
Tahun 1982 terjadi geger Cot Girek, Aceh Utara. Pendeta John dari Banda Aceh men-janjikan bantuan bibit tanam-tanaman, peralatan pertanian dan uang Rp 50.000 ( Lima puluh ribu rupiah) bagi mereka yang mau mengikuti Yesus Kristus. Pertemuan besar umat Kristen di Cot Girek dan merekomendasikan Cot Girek sebagai pusat untuk penyebaran Kristen di Aceh. Namun rencana itu dike-tahui warga dan masyarakat merobohkan tempat pertemuan mereka.
Sebelum tsunami terjadi, April 2004 umat Kristen sebagai umat minoritas, ingin membangun gereja besar di Sabang yang seimbang Masjid Agung. Rencana ini gagal karena pemerintah dan pemuka masyarakat Sabang menolaknya.
Bencana tsunami sehari setelah Natal 2004 menjadi momentum misionaris mengobok-obok Serambi Mekah. Presiden Gospel for Asia (GFA) KP Yohannan dalam Philadelphia Inquirer seperti dikuti situs www.news-leader.com pada 10 Januari 2005 menyatakan, ”Bencana ini merupakan salah satu kesempatan terbesar Tuhan yang diberikan pada kami untuk berbagi cinta-Nya dengan orang-orang itu.”
Hal serupa dikatakan Koordinator Southern Baptist, Pat Julian Robertson yang amat anti Islam. Menurutnya, tsunami telah menyediakan kesempatan fenomenal bagi para penginjil untuk menyebarkan misi Yesus bagi Muslim Aceh dan sekitarnya.
Penginjil Vernon Brewer yang menjadi pimpinan dari World Help, sebuah organisasi missionaris yang berpangkalan di Virginia AS, juga menyatakan bahwa dengan adanya bencana tsunami maka daerah-daerah yang tadinya sulit dijangkau penginjil terbuka lebar. Tak mengherankan, misionaris enggan meninggalkan Aceh dan terus mencari jalan agar tetap bisa bertahan di Aceh dengan berbagai dalih.[] mujiyanto