Yang Muda, Yang Rindu Surga....

“Tsamina..mina..ee..ee..waka..waka..ee..ee...”
Itulah potongan lirik official song Piala Dunia 2010 lalu. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga kakek-nenek mampu menyanyikan lagu itu dengan fasihnya. Namun, helatan sepak bola empat tahun sekali itu sudah berakhir. Bersamaan dengannya, Spanyol berhasil dinobatkan menjadi jawara baru dalam ajang tersebut. Tak ayal, gegap gempita para supporter menyambut kemenangan la furia roja. Tak kalah senangnya, para remaja yang menjagokan spanyol dalam taruhan pun sudah bersiap-siap mentraktir bala kurawanya. Ya, momen Piala Dunia setiap empat tahunnya memang selalu mengundang ketertarikan sendiri buat bolamania.
Gelaran Piala Dunia itu, memang menjadi satu di antara jutaan gelaran lain yang hadir dalam kehidupan kaum muda. Ajang pencarian penyanyi, penari, dan bakat-bakat lain sampai rebutan seorang laki-laki single juga menghiasi hari-hari remaja. Belum lagi semakin banyaknya band yang menghadirkan lirik berbau asmara buta (tapi kalo ramadhan pada beralih ke musik religi). Ada ajang pencarian bakat, ada music, ada juga sinetron dan film yang nggak kalah vulgar untuk menyita perhatian remaja. Tak kalah, hadiah ‘plus-plus’ dari para artis dengan video pornonya. Seakan sejak membuka mata hingga tidur lagi, remaja mendapatkan doorprize bernama hiburan.
Tapi kalo dipikir-pikir emang stress dan sumpek juga sih kalo ga ada hiburan. Betul juga tuh, makhluk yang bernama manusia memang perlu beristirahat den rileks setelah melakukan aktifitas hidup. Mulai bangun sampai terlelap, manusia memang kudu mencurahkan tenaga dan pikiran untuk menjadikan hidupnya lebih baik. Apalagi dalam usia remaja. Saatnya mencari jati diri, gitu looh!! Dicari di gunung, ga bakalan ketemu. Apalagi di laut. Hmm, yakin deh juga ga bakal nemu sosok bernama jati diri. Nah, makanya greens ada tips buat remaja supaya ndak stress. Caranya adalah, jangan cari jati diri di laut, gunung, hutan, apalagi selokan… Duh, gak nyambung ya?
Jati Diri, Penting gak sih?
Jati diri bukanlah rupa wajah, bentuk badan, warna kulit, bukan juga pohon jati. Pohon pisang juga nggak mungkin, apalagi pohon rambutan. Hee..hee.. ice breaking dikit. Jangan terlalu tegang. Yup, namun yang dimaksud jati diri di sini adalah terkait dengan eksistensi seorang manusia. Tentang siapa dirinya, dari mana ia datang, untuk apa hidupnya, dan akan kemana setelah hidupnya berakhir. Wuuih, panjang banget ya? Ndak juga kale… karena memang pada dasarnya, setiap manusia yang lahir di dunia ini adalah sosok yang unik. Benar-benar berbeda dengan yang lain. Jati diri setiap manusia adalah menjadi seorang pemenang. Betapa tidak? Sebelum menjadi janin, kita telah mengalahkan sel sperma yang lain dalam membuahi ovum. Nah lo, ternyata untuk lahir ke dunia ini, kita sudah berpredikat sebagai pemenang. Kecuali yang kembar, yah.. bagi-bagi trophy dan piagam aja deh. 
Apabila seseorang menjadikan kehidupan ini sebagai motivasi, maka bukan tidak mungkin seseorang akan bersemangat untuk melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Apa yang dirasa sebagai sesuatu yang berharga, bisa jadi mulai ujung rambut hingga ujung kaki bakal dikorbankan untuk meraihnya. Sebagai contoh, bolehlah kita mengamati seorang atlet sepak bola macam Lionel Messi, dan kawan-kawannya. Tentu mereka bakal mengorbankan pikiran, tenaga dan fisiknya untuk meraih kemenangan di setiap pertandingan. Bahkan tidak sedikit atlet sepak bola yang nekat menggunakan obat terlarang demi mendukung karirnya menggocek bola. Tidak cukup itu, tidak jarang mereka yang cinta mati pada si kulit bundar hingga harus meregang nyawa di lapangan hijau. Sebut saja Marc-Vivien Foe, Antonio Puerta, Eri Irianto, dan lain-lain.
Vivien Foe dkk dikenal sebagai orang yang “cinta” dengan sepak bola. Michael Jackson pun dikenal sebagai King of Pop. Terbaru, Shoya Tomizawa dikenal sebagai pembalap muda bertalenta yang tewas di lintasan. Kemudian jika remaja muslim diberi sebuah pertanyaan tentang siapa dirinya, kira-kira apa ya jawabnya? Nah greensoulid, di sinilah letak pentingnya sebuah jati diri bagi seorang manusia. Jati diri inilah yang nantinya akan membimbing kita untuk memetakan hidup. Tanpa jati diri dan mengenal siapa dirinya, maka manusia, terlebih remaja akan kesulitan menentukan cita-cita dan tujuan hidupnya. Artinya, jati diri yang dicari oleh remaja itulah yang nantinya mengantarkan pada masa depannya. Terlebih lagi tentang di mana tujuan akhir setelah meninggalkan dunia fana ini. Tanpa jati diri pula, maka kehidupan seseorang tidak akan berarti (aah, yang bener?)
Yup. Bener kok. Jika jati diri tidak dimiliki, maka seseorang tidak dapat menggunakan potensinya untuk meraih tujuan. Misalnya saja, seorang muslim yang mempunyai dua tangan. Namun ia tidak mengenali siapa dirinya, apa tujuan hidupnya, maka dapat dipastikan si doi ga bakal menggunakan tangannya untuk bertakbiratul ihram. Atau mungkin jika ada seorang bernama Ali, namun jika ia tidak mengenal Islam, maka boleh diramalkan, jika Ali tidak akan menggunakan lisannya untuk berdakwah. Berbeda halnya dengan Bilal bin Rabbah yang memahami jati dirinya adalah seorang hamba yang diminta untuk hanya bersujud kepada Allah. Dengan jati diri seorang mukmin, maka beratus cambukan yang dihujamkan oleh Umayyah tidak mengendurkan keimanannya sedikitpun. Demikian pula seorang Zaid bin Haritsah yang rela menjemput syahid. Hal ini juga tidak lain karena ia mengetahui jati dirinya sebagai makhluk yang harus menghambakan dirinya pada Allah swt. Selain itu, ia yakin dengan keteguhannya Allah akan membayarnya dengan surga dimana kebahagiaan akan abadi.
Akhirat-minded, haruskah?
Setiap yang kita usahakan pasti akan membuahkan hasil. Setiap yang kita lakukan pasti berbalas. Itu adalah hukum alam yang ga bisa diubah. Namun, pertanyaannya adalah di mana kita menuai hasilnya? Buah seperti apa yang akan kita petik? Itulah yang harus kita pikirkan. Jika di masa muda, seorang remaja ingin menjadi artis, pentolan band, ataupun bigos di acara infotainment, maka sebelum berbuat ia harus betul-betul merenung. Kira-kira, kalo diputuskan untuk menjadi artis, apa ya yang didapatkan? Ketenaran, kekayaan, dan lain-lain ternyata ga bisa bertahan lama. Artis ganteng atau cantik, kalo udah tua pasti jadi peot. Penyanyi kalo udah uzur, bisa jadi suaranya parau. Atau kalo itu semua masih dapat dinikmati di hari tua, kira-kira setelah ia meninggal, lalu apa yang dibawa? Apakah harta kekayaan, ketampanan, dan popularitas? Wah, ga juga tuh. Ga mungkin kan, seorang artis mati dikubur bersama baby benz nya? Atau dikubur bersama smartphone dan laptop serta rumahnya?
Untuk itulah, saat berbicara masa depan, maka jawaban akhirnya adalah akhirat. Masak sih? Iya lho… gini ceritanya. Ketika seorang murid SD ditanya kapan masa depannya, maka jawabannya adalah masa SMP nanti. Saat sudah SMP, jawaban dari pertanyaan masa depannya adalah saat SMA. Begitu seterusnya, hingga seandainya orang tersebut sudah singgah di masa tua, maka jawaban masa depan, mau gak mau dia pasti menjawab bahwa masa depan adalah kehidupan setelah mati. Celakanya, kematian belum tentu hadir saat manusia sudah tua. Tetapi, kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja serta dalam usia berapa pun. Wih, ngeri…
So, di usia yang masih belia, hendaknya remaja menyadari hal tersebut. Selain itu, ketika seorang remaja sedang mencari jati diri, ia harus berpikir agar bagaimana setelah ia mengetahui jati dirinya, maka apa yang ia lakukan dapat menyelamatkan dari siksa api neraka. Segala bentuk potensi yang dimiliki oleh remaja harus dapat menghadirkan ridho Allah. Untuk meraihnya, remaja tidak boleh lepas dari tiga hal. Belajar Islam, mengamalkan, dan mendakwahkannya. Tiga hal inilah yang nantinya menjadikan seorang remaja menjadi pemimpin bagi kaum muda yang lain. Maka, menjadi remaja pemimpin dan memiliki cita-cita tinggi, kenapa tidak? Toh, surga juga buat anak muda. [gs]